Hi-Tech Student Day 2012

Hi-Tech Student Day 2012
Foto bersama Kakak-Kakak Pramuka Unpad dengan Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia usai upacara peringatan HUT RI ke-68 pada Sabtu (17/8/2013) di Kampus Unpad Dipatiukur, Bandung

Sabtu, 02 Mei 2015

Opini Pendidikan

Cerdaskan Bangsa Melalui Pendidikan


Dalam amanat pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 terdapat kalimat ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’. Kalimat itu lahir sebagai cita-cita mulia dari para pendiri bangsa yang dapat dicapai melalui pendidikan. Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara menekankan konsep tri pusat pendidikan, yaitu pendidikan di keluarga, sekolah, dan masyakarat.

Ki Hadjar telah mencetuskan sebuah falsafah penting dalam pendidikan kita yang dikenal dengan sistem among dalam ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangunkarso, dan tut wuri handayani. Sistem among itu dapat diterapkan di tiga sistem pendidikan tadi yang berfokus pada keteladanan dan kesederhanaan. Keteladanan yang dimaksud adalah dapat menempatkan diri pada alam lingkungan sekarang dengan tidak melupakan budaya bangsa.

Saat ini, anggaran pendidikan Indonesia telah mendapatkan porsi yang cukup besar dalam mewujudkan cita-cita para leluhur untuk mencerdaskan bangsa. Pemerintah sudah seharusnya terus berupaya secara optimal dalam menggunakan anggaran pendidikan sebesar 20 persen untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kemajuan bangsa.

Berbagai kebijakan pendidikan harus benar-benar mempunyai output yang jelas, jangan hanya sebatas program seremonial saja dan tidak menyeluruh. Masih banyak ditemukan berbagai fasilitas sekolah di daerah-daerah terpencil belum memadai bahkan boleh dikatakan tidak layak. Bahkan tak jauh dari ibu kota Jakarta masih ditemukan sekolah yang tidak mempunyai gedung.

Akses menuju sekolah pun boleh dikatakan dalam kondisi buruk, seperti jalan dan jembatan masih ada yang rusak bahkan membahayakan keselamatan siswa. Misalnya, jembatan yang mendapat julukan indiana jones di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten sempat menghebohkan, lantaran kondisi jembatan yang sangat memprihatinkan dan mengancam keselamatan siapapun yang melintasinya.

Konsep pendidikan yang dirancang Ki Hadjar menjelaskan sekolah harus menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan untuk siswa. Di sini, peran guru sebagai orang tua siswa saat di sekolah dilakukan dengan pola komunikasi yang baik. Guru tidak hanya mengajar, melainkan mendidik siswa melalui proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif.

Di samping itu, orang tua mendidik anaknya dengan keteladanan di lingkungan keluarga, seperti mencontohkan tata krama dalam bersikap dan bertutur kata yang santun terhadap semua orang. Kemudian, anak dapat dilibatkan langsung dalam kegiatan masyarakat, seperti gotong royong sebagai perwujudan konsep tersebut.

Jangan biarkan generasi penerus bangsa putus sekolah karena biaya, misalnya ada siswa yang harus membantu pekerjaan orang tuanya untuk bertahan hidup. Orang tua yang menganggap pendidikan tidak terlalu penting karena tidak dapat menghasilkan pendapatan bagi keluarganya merupakan pola pikir yang keliru dan mental seperti itu dapat dihilangkan melalui pendidikan.

Pendidikan bukan berujung pada materi saja, namun jauh lebih penting yaitu keteladanan dan budi pekerti luhur yang menciptakan kecerdasan seseorang, baik kecerdasan intelegensi, emosional hingga spiritual. Dari pendidikan itulah, kemajuan dan daya saing bangsa bisa semakin tercapai dalam berbagai sektor khususnya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). 

Penulis: Deden Rochman Saputro, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

Rabu, 22 April 2015

Opini Sosial

Gerakan Mewujudkan Kemerdekaan Palestina




Puncak peringatan ke-60 Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang akan diselenggarakan di Bandung pada Jumat (24/4) mendatang harus menjadi momentum bersejarah dalam mewujudkan kemerdekaan Palestina. Pasalnya, sejarah mencatat sebagian besar negara-negara peserta KAA merupakan negara yang masih terjajah dan merdeka setelah penyelenggaraan KAA pertama pada tahun 1955 di Bandung. Setidaknya ada 20 negara Asia-Afrika yang merdeka usai perhelatan tersebut.

Para delegasi KAA tahun ini sudah tiba di Jakarta sejak Minggu (19/4) lalu dan pada Rabu (23/4) secara resmi KAA dibuka langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. Tentu kita masih ingat terhadap janji Presiden Jokowi saat kampanye pada Pilpres lalu yang menyatakan akan membebaskan Palestina dari penjajahan. Layaknya orasi Bung Karno pada saat itu, Jokowi pun mengusung misi yang sama untuk berupaya menjadikan Palestina sebagai negara yang merdeka.

Seperti ini kutipan pernyataan Bung Karno pada tahun 1962, 
“Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah Bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.”
Ir. Soekarno

Sah-sah saja bila Jokowi menggunakan misi Bung Karno dalam memerdekakan Palestina, namun jangan sampai salah satu janji kampanye itu sebatas janji saja tanpa bukti yang berarti. Maka, saat inilah waktu yang tepat untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina dalam forum internasional bernama KAA.

Pada pertemuan pertama peringatan ke-60 KAA tahun ini, deklarasi dukungan kemerdekaan negara Palestina kembali disepakati melalui pertemuan para pejabat tinggi KAA di Jakarta pada Minggu (19/4). Deklarasi ini pun akan diputuskan pada puncak KAA di Bandung pada Jumat (24/4). Terlebih khusus aspek penting yang harus nyata dibahas adalah komitmen Asia-Afrika untuk membantu Palestina mempersiapkan diri dalam menjalankan pemerintahan saat sudah merdeka.

Tentu saja dengan adanya outcome KAA yaitu “Declaration of Palestine” berarti bisa menjadi ajang pembuktian bagi pemerintahan Jokowi-JK untuk secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Dalam pelaksanaan mewujudkan hal itu, maka poin pertama yang harus ditekankan adalah kemerdekaan Palestina sebagai solusi untuk mengakhiri konflik dengan Israel dan berakhirnya pula pendudukan Isreal dari tanah Palestina. Poin kedua, negara-negara pendukung kemerdekaan Palestina juga mendesak terselenggaranya pemilihan umum di Palestina sesegera mungkin.

Berbanding lurus dengan outcome KAA dan janji kampanye Jokowi untuk memerdekakan Palestina, maka dibuatlah sebuah gerakan massal di media sosial dan unjuk rasa secara nyata oleh masyarakat Indonesia dengan tajuk #KAAforPalestine. Gerakan ini merupakan propaganda kepada para delegasi KAA untuk benar-benar membantu Palestina untuk mendapatkan kemerdekaannya setelah sekian lama tanah mereka dicaplok oleh Israel. Selama puluhan tahun sudah ribuan jiwa rakyat Palestina melayang akibat pertempuran di Jalur Gaza dan Tepi Barat, Palestina antara pejuang Hamas (Palestina) dan tentara Israel.

Sungguh peristiwa tersebut sangat memilukan dan menyayat hati manusia di seluruh dunia, di mana letak perikemanusiaan yang dilakukan oleh pihak Israel dan juga sekutunya? Sudah saatnya momen KAA ini menjadi tonggak sejarah penggerak kemerdekaan suatu bangsa memiliki hak atas tanah yang didiaminya menjadi sebuah negara yang berdaulat. Kembalikan lagi semangat anti imprealisme pada saat awal pertama KAA ini dibentuk. Mari segenap bangsa-bangsa Asia-Afrika saling bahu-membahu mewujudkan kemerdekaan Palestina.

Penulis: Deden Rochman Saputro, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

Sabtu, 21 Maret 2015

#JepangnyaTuhDiSini, edisi 25 Februari 2015

Awal Perjalanan ke Jepang (2)

Sang mentari tak tampak begitu jelas, hanya kumpulan awan pekat menyelimuti pagi ini. Kami harus bersiap-siap menuju Prefektur Ehime yang merupakan destinasi dari grup Indonesia-D. Sebelum menuju bandara, seluruh peserta Jenesys mengunjungi Miraikan yang merupakan museum robot dan teknologi Jepang di Tokyo.
Tokyo Sky Tree di pagi hari
Pemandangan dari dalam kamar hotel East 21 terlihat Tokyo Sky Tree

Di sana, kami melihat ragam perkembangan teknologi dan robotik Jepang yang sudah terkenal di seluruh dunia termasuk ‘Robot Asimo’. Wah, menakjubkan sekali bisa langsung melihat pertunjukan Asimo. Apalagi pengunjung yang datang tidak hanya orang dewasa, tetapi juga para siswa Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Di Jepang, para siswa TK dan SD memang sudah diperkenalkan dengan robot dan penemuan teknologi lainnya supaya mereka punya ketertarikan dalam perkembangan teknologi terbaru. Wajar saja bila Jepang menjadi negara maju karena orang-orangnya gemar belajar dan bekerja. Selain itu, mereka juga ramah.
Gedung Miraikan 
Robot yang menyerupai manusia
I bring my world
Beberapa siswa TK di Jepang sedang mengunjungi Miraikan
Para pengunjung sedang menanti kehadiran 'Robot Asimo'
Pertunjukan 'Robot Asimo'

Usai mengunjungi ragam robot dan penemuan teknologi mutakhir di Miraikan, selanjutnya kami berkunjung ke salah satu pusat perbelanjaan di Tokyo bernama Aqua City Odaiba untuk makan siang. Setelah makan, aku dan teman-teman bergegas keluar restoran Surabaya untuk berfoto-foto. Ada juga yang masih penasaran untuk berbelanja di toko serba 100 yen. Aku lebih memilih untuk hunting foto bagus karena mumpung di Jepang gitu loh, he..he..
Aqua City Odaiba merupakan tempat perbelanjaan di Tokyo

Tepat di samping perbelanjaan itu, terdapat ‘Patung Liberty’ khusus untuk Jepang dari Perancis yang dipajang di Tokyo. Tak jauh dari sana, pemandangan Rainbow Bridge terlihat dengan jelas. Tak heran, banyak pengunjung yang mengambil foto di sana. Ternyata, Patung Liberty yang ada di Tokyo ini merupakan patung dengan ukuran asli loh, sama halnya yang ada di Amerika Serikat. Bedanya, Patung Liberty di New York itu replika yang dibuat lebih besar, padahal yang asli ukurannya seperti yang ada di Tokyo ini.
Patung Liberty di dekat perbelanjaan Odaiba, Tokyo
Foto dengan latar belakang Patung Liberty dan Rainbow Bridge

Sekadar informasi saja, sebenarnya desain Tokyo Tower terinspirasi dari Eifel Tower. Maka dari itu banyak orang yang salah mengira ketika foto dengan latar belakang Tokyo Tower disangka sedang berada di Paris. Mungkin Jepang dan Perancis punya kedekatan khusus kali ya, sampai Patung Liberty juga ada di Tokyo, sudah seperti keliling dunia saja hanya mengunjungi Jepang, he..he..

Di tempat yang sama dari atas aku melihat ada bunga sakura bermekaran di trotoar samping perbelanjaan itu. Ehm, langsung saja aku mengajak teman-temanku yang sedang berfoto-foto untuk tidak melewatkan momen foto dengan latar belakang bunga sakura. Wah, “kawai...” indahnya bisa melihat dari dekat bunga sakura itu seperti apa, padahal sebelumnya hanya tahu dari tayangan televisi saja.
Bunga sakura sedang mekar di samping Aqua City Odaiba
Foto dengan latar belakang bunga sakura

Asal boleh tahu saja, bunga sakura biasanya mekar kala musim semi pada pertengahan Maret dan saat kami berkunjung ke sana sedang masih musim dingin. Mungkin karena peralihan musim dingin ke musim semi, jadi ada juga nih bunga sakura yang cepat-cepat muncul di hadapan kami. “Inilah takdir Sang Maha Pencipta”. Kami pun mengabadikan momen ini dan aku teringat pesan dari teman-teman UKM Pramuka Unpad untuk membuat tulisan dengan latar belakang bunga sakura. Alhamdulillah...
Tulisan 'Pramuka Unpad in Tokyo'
Tulisan 'BKI Fikom Unpad in Tokyo'
Aishiteru Okaasan :)
This is for my sister

Aku juga buat tulisan lainnya untuk memotivasi diriku, Biro Kerohanian Islam (BKI) Fikom Unpad, dan kawan-kawan seperjuangan yang hendak atau sedang menyusun skripsi serta tak lupa tulisan untuk ibu dan adik perempuanku. Rasanya senang sekali bisa punya kesempatan melihat dan memegang langsung bunga sakura. Jadi benar deh sekarang aku sudah berada di negeri sakura, julukan untuk Jepang.
“Make dreams come true with all your the best efforts and also sincerity pray to the Allah Swt”
(Deden Rochman Saputro)
Now, I'm Jenesyst (sebutan untuk peserta Jenesys)

*To be continue... 

Jumat, 20 Maret 2015

#JepangnyaTuhDiSini, edisi 23-24 Februari 2015

Awal Perjalanan ke Jepang (1)

Berbagai persiapan menuju negeri matahari terbit terus disiapkan olehku, namun rupanya masih ada saja yang belum lengkap. Ibuku menanyaiku perihal perlengkapan apa saja yang belum ada. Setelah dicek lagi, ternyata masih kurang steker tipe A berbentuk pipih. Memang di Jepang colokan listriknya berbeda dengan yang ada di Indonesia. Steker tipe A memiliki tegangan 110 Volt, sedangkan di Indonesia bertegangan 220 Volt. Aku mencari steker tipe A di tiga toko listrik dekat rumah, namun tak ada satupun yang menjualnya. Akhirnya, ibuku berinisiatif membelikan terminal listrik untuk digunakan selama di sana dengan harap teman satu kelompok membawa 2 steker tipe A.

Berbagai persiapan selama di Jepang
Di Jepang menggunakan steker tipe A (bentuk pipih) 110 volt

Sebenarnya tak hanya steker tipe A saja yang aku cari, tetapi masih ada beberapa perlengkapan lainnya, seperti kaos kaki, sarung tangan, dan obat-obatan. Aku harus membeli kaos kaki lagi karena di sana sedang musim dingin dan sesuai buku pedoman, peserta Jenesys 2.0 Mass Media Batch 11 dihimbau untuk membawa kaos kaki selama 7 hari di samping membawa mantel atau jaket tebal. Aku juga membawa beberapa kaos atau baju yang bisa berlapis-lapis dipakai supaya tetap merasa hangat. Saat musim dingin di Jepang, suhu di setiap kota berbeda-beda kisaran 4-6 derajat celcius pada bulan Februari. Aku pun mempelajari bahasa Jepang dan berbagai kebiasaan orang Jepang melalui buku pedoman.

Sebelum take off, kami dikumpulkan terlebih dahulu oleh pendamping peserta Jenesys dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI. Pada sesi ini, kami mengisi daftar hadir dan mengecek kembali semua perlengkapan khususnya paspor dan visa sebagai senjata kami selama di Jepang. Kami juga dibagi ke dalam 4 grup, yaitu grup A-D yang ditempatkan di berbeda prefektur. Aku kebagian grup Indonesia-D Prefektur Ehime bersama 24 orang lainnya termasuk 5 mahasiswa dari satu almamater Unpad.
Pesawat Japan Air Lines (JAL)

Usai dibagi ke dalam grup, kami melakukan broading pass yang cukup ketat karena akan memasuki negara orang, khususnya Jepang yang merupakan negara maju. Air mineral yang dibawa peserta Jenesys harus disita karena mengandung cairan dan dikhawatirkan tercampur unsur kimia lainnya. Setelah itu, kami menunggu take off di ruang tunggu keberangkatan terminal 2.
Para peserta Jenesys sedang bersiap-siap take off di dalam pesawat JAL
Dalam pesawat JAL, kami bisa menonton film termasuk film Jepang dan mendengarkan musik Jepang

Aku kira perjalanan ke Jepang menggunakan maskapai penerbangan kebanggaan negeri ini, Garuda Indonesia. Ternyata, aku dan teman-teman beserta pendamping dari Kemenkominfo pergi ke sana menggunakan maskapai penerbangan Jepang, Japan Air Lines (JAL). Wah, branded sekali bisa mencicipi penerbangan dengan maskapai Jepang. Menurutku wajar saja, karena Jenesys ini kan merupakan program dari pemerintah Jepang bagi para pelajar dan mahasiswa ASEAN termasuk Indonesia. Dalam program kali ini, para delegasi dari Indonesia ditemani oleh delegasi dari Myanmar yang terdiri dari 2 grup.

Perjalanan dari Jakarta menuju Tokyo menempuh waktu sekira 7 jam. Kami berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 21.50 WIB dan tiba di Bandara Narita pukul 06.30 waktu Jepang. Saat pesawat sudah memasuki langit Jepang, sang mentari pun muncul dengan sendirinya dan benar saja begitu indahnya matahari menyinari pagi hari di Jepang yang terkenal dengan sebutan negeri matahari terbit. Kala musim dingin, matahari muncul pada pukul 6.00-6.45 waktu Jepang.
Sang mentari mulai menampakkan dirinya dari jendela pesawat
Gugusan awan pagi hari bertambah cantik dengan hadirnya sang mentari

Saat keluar dari dalam kabin pesawat menuju bagian imigrasi Bandara Narita, cuaca berubah menjadi sangat dingin sekali. Mungkin ini yang dinamakan dengan weather shock dari cuaca negara tropis ke cuaca negara 4 musim, apalagi masih musim dingin. Biasanya kalau kita masuk ke minimarket di Indonesia, suhunya dingin dan keluar menjadi panas, namun di Jepang justru kebalikannya. Benar saja, setelah keluar dari bandara barulah suhu musim dingin di Tokyo terasa menusuk tulang hingga sakitnya tuh di sini... maksudnya sampai terasa ke dada, asli deh. Maklum karena tubuhku ini kurus dan berlapis tulang belulang dengan kulit tipis, he..he..
Setibanya di Bandara Narita, Jepang pada Selasa pagi (24/2/2015)
Para peserta Jenesys 2.0 Mass Media yang baru tiba di Bandara Narita langsung ke bagian imigrasi

Kami pun dijemput dengan bus menuju hotel East 21, Tokyo sesuai dengan pembagian grup saat di Jakarta. Sepanjang perjalanan, aku takjub dengan tata ruang kota yang diberlakukan di Jepang karena tidak semrawut, tetapi benar-benar tertata dengan baik. Misal, letak pusat bisnis, tempat pemerintahan, bahkan pabrik berbeda lokasi. Perjalanan dari Narita menuju Tokyo sekira 60 menit menggunakan bus.
Hotel East 21 Tokyo, di dekatnya ada tempat parkir khusus sepeda

Setibanya di Tokyo, aku memperhatikan orang-orang Jepang gemar sekali naik sepeda. Mobil-mobil yang berlalu lalang di jalan-jalan Tokyo tampak sedikit dan bisa dihitung dengan jari setiap kali berhenti di lampu lalu lintas. Untuk jarak jauh, mereka lebih suka berpergian dengan kendaraan umum, seperti bus dan kereta bawah tanah. Sepanjang jalan itu, aku menemukan seorang ibu yang mengantarkan anaknya sekolah dengan sepeda seperti mamanya Sinchan yang ada di kartun, benar ada di dunia realita. Mereka yang mengendarai sepeda tak khawatir jika diparkir begitu saja bahkan tidak dikunci atau digembok dan ternyata aman-aman saja. Pantas saja berdasarkan survei beberapa waktu lalu, Tokyo dinobatkan sebagai kota teraman di dunia.
Suasana perempatan lalu lintas di Tokyo
Seorang ibu yang mengantarkan anaknya pergi sekolah atau sekadar jalan-jalan dengan sepeda

Begitu tiba di hotel East 21, kami langsung disambut oleh koordinator grup kami yaitu Pak Kuswan yang berasal dari Indonesia dan Mabuchi yang merupakan orang asli Jepang tapi pernah tinggal di Jogja. Aku sempat mengira kalau Pak Kuswan itu orang Jepang, karena wajahnya sudah seperti orang Jepang. Pak Kuswan memang sudah lama tinggal dan kerja di Tokyo. Beliau menjelaskan mengenai informasi seputar program Jenesys ini berlangsung. Kami juga diminta untuk menerapkan kedisiplinan selama 8 hari di Jepang dan setelah tiba di Indonesia lagi terserah mau dilanjutkan untuk disiplin atau ngaret. Bisa saja cara Pak Kuswan menghimbau kami.
Kegiatan orientasi pertama saat di Jepang
Mabuchi (sebelah kiri) dan Pak Kuswan (sebelah kanan)

Entah mengapa di hari pertama menginjakkan kaki di Jepang, justru hari itulah kami diberikan waktu untuk berjalan-jalan mengelilingi setiap sudut Kota Tokyo. Waduh, kalau begini caranya, langsung saja sikat dan hajar waktu jalan-jalan ini, he..he. Grup Indonesia-D tak mau kalah dan bersemangat untuk bisa mengunjungi ragam tempat menarik yang ada di Tokyo, seperti Asakusa, Shibuya, bahkan Tokyo Tower. Sebelumnya Pak Kuswan telah memberikan informasi mengenai ‘Tokyo Metro’, sebutan untuk kereta bawah tanah Tokyo menuju ke berbagai tempat.

Setelah makan siang, kami segera bergegas menuju stasiun kereta bawah tanah wilayah Toyocho yang dekat dengan hotel East 21. Kami pun langsung membeli tiket elektronik ‘one day ticket’ yang bisa digunakan seharian penuh. Akhirnya, kami memutuskan untuk ke Asakusa yang merupakan pasar tradisional bagi para wisatawan dan terdapat kuil untuk peribadatan orang Jepang. selain itu, terdapat becak tradisional Jepang bagi para wisatawan yang ingin berkeliling sekitaran Asakusa.
Becak tradisional Jepang untuk wisatawan



Kami berangkat dari Toyocho pukul 15.00 dan tiba di Asakusa pukul 16.00 karena kami kebanyakan bertanya, maklum pertama kali naik beginian, he..he.. belum ada soalnya di Indonesia. Sempat terpikir olehku dan bilang ke teman-teman, kalau di Indonesia khususnya Jakarta ada kereta bawah tanah, nanti yang ada pas hujan turun, airnya netes-netes ke stasiun sama keretanya, bisa-bisa kelelep karena memang kontur tanah di Jakarta mudah merembes.
Saat menunggu kereta datang
Kereta 'Tokyo Metro' tiba di Stasiun Toyocho

Saat di Asakusa, banyak sekali kios-kios suvenir, makanan, mainan, bahkan pakaian khas Jepang. Barang-barang yang dijual di sana terbilang terjangkau bagi wisatawan. Aku dan teman-teman ada yang membeli jajanan khas Jepang, lalu ada juga yang membeli suvenir sebagai buah tangan. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, tanda kami harus segera kembali ke hotel supaya tidak telat.
Gerbang Asakusa
Suasana di Asakusa





Tadinya, kami ingin ke Shibuya yakni pusat keramaian Kota Tokyo yang terkenal dengan para pejalan kakinya dan gedung-gedung pencakar langit. Sayang, karena kami sampai di Asakusa kesorean jadi kami tidak sempat ke sana. Kami harus kumpul kembali untuk jamuan makan malam pukul 18.20 dan kebiasaan orang Jepang minimal 5 menit sebelumnya sudah tiba di tempat. Maka, kami dihimbau sudah berkumpul pukul 18.15 di loby hotel. Itulah kebiasaan orang Jepang yang terkenal dengan kedisiplinannya. Pantas saja kalau Jepang sudah menjadi negara maju karena perilaku orang Jepang yang disiplin dan giat bekerja.
Keramaian di Asakusa, Tokyo

Tak sampai di situ, setelah makan malam kami langsung memutuskan untuk jalan-jalan lagi sebelum jam malam pukul 22.00. Akhirnya, kami bergegas menuju landmark Kota Tokyo yaitu ‘Tokyo Tower’. Ternyata perjalanan menuju Tokyo Tower sangat jauh karena berada di pusat kota. Kalau mau ke Shibuya lebih jauh lagi. Kami berangkat pukul 20.30 dan tiba pukul 21.00, di sinilah kami bisa melihat pemandangan Tokyo di malam hari. Dari ketinggian 120 meter bagian tengah Tokyo Tower, kami bisa melihat Rainbow Bridge yang juga sebagai simbol Kota Tokyo. Indah dan menakjubkan pemandangannya. Selain itu, aku dan teman-teman bisa melihat penayangan film 3D di sini. Rasanya tidak ingin turun, tetapi karena keterbatasan waktu juga kami harus kembali ke hotel.
Penayangan film 3D di Tokyo Tower
Tokyo Tower saat malam hari
Rainbow Bridge dari atas Tokyo Tower

*To be continue...

Kamis, 15 Januari 2015

Opini Olah Raga 2

Semangat Membara Para Atlet Difabel Indonesia

Oleh: Deden Rochman Saputro, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad


Perhelatan Asian Para Games 2014 yang digelar pada 18-24 Oktober di Incheon, Korea Selatan menjadi wadah tersendiri bagi para atlet berkebutuhan khusus untuk bisa berprestasi di pentas internasional. Setidaknya hal itu yang mampu ditunjukkan oleh para altet difabel Indonesia yang telah berjuang di pentas olah raga muliticabang se-Asia tersebut. Berbagai persiapan yang mereka lakukan sebelumnya, akhirnya sedikit demi sedikit membuahkan hasil manis dengan berbagai raihan medali emas.

       Kabar menggembirakan itu datang dari berbagai cabang yang diikuti para atlet difabel Indonesia seperti bulu tangkis, tenis meja, dan renang. Bahkan Indonesia mampu memecahkan rekor dunia dan Asia melalui atlet renang Mulyana dan Melianus Marinus Yowei. Mereka tampil dengan luar biasa dalam mencapai kemenangan. Hingga akhir penyelenggaraan APG 2014, Indonesia berada di peringkat kesembilan dengan raihan 9 medali emas,11 perak, dan 18 perunggu. Hal ini justru mampu mengalahkan raihan medali emas Asian Games 2014 beberapa pekan lalu yang berada di posisi 17 dengan 4 medali emas, 5 perak, dan 11 perunggu.

       Keberhasilan para atlet difabel mungkin tidak bisa disamakan seutuhnya dengan para atlet yang dalam kondisi normal. Semangat gigih pantang menyerah itulah yang seharusnya dapat diikuti oleh para atlet yang kondisinya memungkinkan untuk berprestasi lebih di pentas olah raga internasional. Walaupun, para atlet difabel mengalami kekurangan secara fisiknya, namun secara mental mereka boleh dikatakan kuat dan siap menghadapi berbagai tantangan untuk bisa berprestasi.

       Kabar menggembirakan datang dari cabang bulu tangkis dalam ajang Asian Para Games (APG) Incheon 2014 di mana para atlet difabel Indonesia berhasil memboyong 4 medali emas. Mereka tampil dengan luar biasa dalam mencapai kemenangan. Fredy Setiawan, tunggal putra SL4 berhasil meraih medali emas pertama bulu tangkis bagi kontingen Indonesia. Fredy mengalahkan Tarun, atlet asal India, dengan skor cukup ketat 22-20, 21-18. Selanjutnya, medali emas kedua diraih oleh Ukun Rukaendi di nomor tunggal SL3 dengan mengalahkan Manoj Sarkar (India), 21-14 dan 21-15.

       Dua emas lagi diperoleh lewat nomor ganda campuran dan ganda putra. Pasangan ganda campuran SL 3,4/SU 5 Fredy Setiawan/Leani Ratri Oktila sukses menundukkan Raj Kumar/Parul Dalsukbhai Parmar (India), 21-14, 21-15. Kemudian ganda putra SL 3-4 Harry Susanto/Ukun Rukaendi menang atas rekan senegaranya, Dwiyoko/Fredy Setiawan, 21-15 dan 21-13.

       Selain itu, dua medali emas lainnya juga berhasil direbut dari cabang tenis meja pada hari sebelumnya, Rabu (22/10) di Songdo Global University Gymnasium Incheon. Pada nomor tunggal putra kelompok TT9-10, Dian David Michael Jacobs mampu mengandaskan perlawanan pemain Sri Lanka, Dinesih D Pitiyoge Don Silva, dengan skor 3-1 (11-6, 11-5, 7-11, dan 11-9). Raihan medali emas David ini merupakan medali emas pertama sejak keikutsertaannya pada Asian Paragames. Pada ajang APG 2010, David hanya mampu memboyong medali perunggu di Guangzhou, Tiongkok.

       Sementara itu pada kelompok TT5, Agus Susanto berhasil mengalahkan pemain tuan rumah Kim Ki-Young dengan skor meyakinkan 3-0 (11-8, 13-11, 11-7). Agus susanto sendiri mengaku bahwa teknik lawan lebih unggul darinya, namun dia bisa menggunakan strategi menyerang dan pertahanan yang baik. Agus tak ingin membiarkan lawan dengan leluasa menyerang dirinya dan kalah begitu saja.

       Di samping berbagai prestasi gemilang tersebut, pada kenyataannya olah raga kita masih menyisakan berbagai persoalan klasik, seperti pendanaan dan pembinaan. David Jacobs pun berharap kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan olah raga khususnya olah raga bagi kategori difabel. “Pembinaan secara keseluruhan wajib dilakukan, mulai dari perencanaan, pembiayaan pada saat pelatnas, hingga memperhatikan kesejahteraan atlet,” ungkapnya dalam berita Harian Bola edisi 20 Oktober 2014 lalu.

       Selain dukungan moril yang diberikan kepada para atlet Indonesia, sudah sewajarnya pula pemerintah memberikan bentuk dukungan materil kepada para atlet dan tim pelatih. Jangan sampai prestasi olah raga kita selama ini mandek karena kurangnya sokongan tersebut. Sudah cukup kita hanya bisa mengintil dari belakang negara-negara Asia lainnya yang mulai berkembang prestasinya di bidang olah raga.

       Dengan semangat dan daya juang yang begitu besar, para atlet difabel Indonesia mampu menunjukkan kepada dunia bahwa dengan kekurangan yang mereka miliki justru bisa berubah menjadi suatu kelebihan yang tak terduga. Buktinya, mereka mampu berprestasi di pentas olah raga dunia dengan kepercayaan diri yang tinggi dan usaha yang besar dalam mencapai prestasi tersebut. Diharapkan melalui pemerintahan yang baru di bawah kepemimpinan Jokowi-JK mampu mendukung sepenuhnya perjuangan para atlet kita dalam mengembalikan supremasi olah raga Indonesia di kancah internasional.

       Dalam keterbatasannya, para atlet difabel Indonesia mampu menunjukkan kelebihannya dan bisa menciptakan prestasi yang membanggakan. Itulah yang dinamakan dengan semangat membara para atlet difabel Indonesia yang sungguh luar biasa daya juangnya. Kita nantikan catatan-catatan prestasi mereka di pentas olah raga internasional lainnya, guna mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia di pentas dunia.

Opini Olah Raga 1

Kembalikan Supremasi Olah Raga Indonesia

Oleh: Deden Rochman Saputro, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

Perhelatan Asian Para Games 2014 di Incheon, Korea Selatan yang digelar pada 18-24 Oktober lalu menjadi wadah tersendiri bagi para atlet berkebutuhan khusus untuk bisa berprestasi di pentas internasional. Setidaknya hal itu yang mampu ditunjukkan oleh para altet difabel Indonesia yang telah berjuang di pentas olah raga muliticabang se-Asia tersebut. Berbagai persiapan yang mereka lakukan sebelumnya, akhirnya sedikit demi sedikit membuahkan hasil manis dengan berbagai raihan medali emas.

Kabar menggembirakan itu datang dari berbagai cabang yang diikuti para atlet difabel Indonesia seperti bulu tangkis, tenis meja, dan renang. Bahkan Indonesia mampu memecahkan rekor dunia dan Asia melalui atlet renang Mulyana dan Melianus Marinus Yowei. Mereka tampil dengan luar biasa dalam mencapai kemenangan. Hingga akhir penyelenggaraan APG 2014, Indonesia berada di peringkat kesembilan dengan raihan 9 medali emas,11 perak, dan 18 perunggu. Hal ini justru mampu mengalahkan raihan medali emas Asian Games 2014 beberapa pekan lalu yang berada di posisi 17 dengan 4 medali emas, 5 perak, dan 11 perunggu .

Keberhasilan para atlet difabel tersebut mungkin tidak bisa disamakan seutuhnya dengan para atlet yang dalam kondisi normal. Tetapi, semangat gigih pantang menyerah itulah yang seharusnya dapat diikuti oleh para atlet dengan kondisi normal untuk lebih berprestasi di pentas olah raga internasional. Walaupun para atlet difabel mengalami kekurangan secara fisiknya, namun secara mental mereka boleh dikatakan kuat dan siap menghadapi berbagai tantangan untuk bisa berprestasi.

Dengan semangat dan daya juang yang begitu besar, para atlet difabel Indonesia mampu menunjukkan kepada dunia bahwa dengan kekurangan yang mereka miliki justru bisa berubah menjadi suatu kelebihan yang tak terduga. Buktinya, mereka mampu berprestasi di pentas olah raga dunia dengan kepercayaan diri yang tinggi dan usaha yang besar dalam mencapai prestasi yang membanggakan, salah satunya melalui ajang APG 2014.

Di samping berbagai prestasi cemerlang tersebut, pada kenyataannya olah raga kita masih menyisakan berbagai persoalan klasik, seperti pendanaan dan pembinaan. David Jacobs pun berharap kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan olah raga khususnya olah raga bagi kategori difabel. “Pembinaan secara keseluruhan wajib dilakukan, mulai dari perencanaan, pembiayaan pada saat pelatnas, hingga memperhatikan kesejahteraan atlet,” ungkap atlet tenis meja tersebut dalam Harian Bola edisi 20 Oktober 2014 lalu.

Dalam keterbatasannya, para atlet difabel Indonesia mampu menunjukkan kelebihannya dan bisa menciptakan prestasi yang membanggakan. Itulah yang dinamakan dengan semangat membara para atlet difabel Indonesia yang sungguh luar biasa daya juangnya. Maka kita pun bisa menantikan catatan-catatan prestasi mereka di pentas olah raga internasional lainnya, guna mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia di pentas dunia. Tentu hal tersebut bisa tercapai dengan syarat harus benar-benar disokong oleh pemerintah.

Selain dukungan moril yang diberikan kepada para atlet Indonesia, sudah sewajarnya pula pemerintah memberikan bentuk dukungan materil berupa pendanaan dan sarana yang memadai kepada para atlet, tim pelatih, dan pengurus cabang olah raga. Jangan sampai prestasi olah raga kita selama ini mandek karena kurangnya sokongan tersebut. Sudah cukup kita hanya bisa mengintil dari belakang negara-negara Asia lainnya yang mulai berkembang prestasinya di bidang olah raga, seperti Vietnam, Mongolia, bahkan Korea Utara.

Prestasi terbaik olah raga Indonesia dalam perhelatan multicabang terjadi kala Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962 dengan menduduki peringkat kedua setelah Jepang. Saat itu, kekuatan olah raga Indonesia hampir merata di semua cabang olah raga. Tidak hanya bulu tangkis saja yang sudah terkenal dengan berbagai prestasi gemilangnya, bahkan tim nasional sepak bola kita kala itu mampu menjadi penghuni empat besar kekuatan sepak bola Asia dan hampir masuk Piala Dunia.

Di manakah “Macan Asia” olah raga tersebut yang sempat bersemayam di raga dan jiwa rakyat Indonesia? Bukankah dahulu pemerintah mencanangkan program, “memasyaratkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat”? Rupanya hal itu masih jauh api dari panggang, karena pemerintah masih berkelit dari kewajibannya dalam menyukseskan programnya sendiri dan belum menjadikan para atlet yang sudah ada layaknya para pahlawan olah raga di pentas dunia.

Program pelatihan khusus atlet dalam meraih medali emas di pentas multicabang haruslah dioptimalkan dengan baik dan berkesinambungan melalui Program Indonesia Emas (Prima). Jangan sampai putus dari era satu pemerintahan ke pemerintahan selanjutnya. Mulailah membuat kebijakan program olah raga  berjenjang dan berkelanjutan yang efektif bagi para atlet kita.

Mari kita berkaca dengan negara-negara yang sudah maju sistem pola pembinaan olah raganya, seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Pemerintah di ketiga negara tersebut tidak tanggung-tanggung dalam mendukung bidang olah raga negaranya karena melalui olah raga bisa menjadi salah satu tolak ukur kehormatan suatu bangsa. Dengan begitu, mereka bisa disegani dan lebih dikenal oleh negara-negara lainnya karena mampu menunjukkan prestasi yang bagus dalam bidang olah raga.

Diharapkan pemerintahan Jokowi-JK bisa menghadirkan berbagai solusi perubahan yang nyata dalam memajukan pembinaan olah raga  Indonesia dan tak lupa memperhatikan kesejahteraan para atlet. Di masa bakti 2014-2019, Jokowi-JK juga harus bisa memulai berinvestasi di ranah olah raga. “Pemerintah yang baru harus bisa berinvestasi di olah raga karena bidang ini membuat Indonesia semakin dikenal. Paling tidak, contohlah Tiongkok yang sangat maju dalam membina olah raga,” kata Risa Suseanty yang merupakan atlet sepeda downhill dalam Harian Bola edisi 21 Oktober 2014. Dengan begitu Indonesia akan siap menghadapi perhelatan olah raga multicabang tingkat Asia manakala Indonesia bertindak sebagai tuan rumah Asian Games 2018.

Dalam hal ini, tentu saja pemerintah harus bisa mengerahkan segenap potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada guna dilatih dan dididik menjadi atlet tangguh dan berprestasi sejak usia dini. Apalagi penduduk Indonesia merupakan terbesar keempat di dunia dengan total penduduk sekitar 250 juta jiwa. Apa tidak malu dengan Singapura yang hanya berpenduduk kurang dari 10 juta jiwa mampu berprestasi lebih di kancah olah raga dunia? Kita juga berharap melalui pemerintahan yang baru ini, mampu memberikan dukungan penuh bagi perjuangan para atlet kita dalam mengembalikan supremasi olah raga Indonesia di kancah internasional. 

Sabtu, 11 Oktober 2014

Resensi Buku


Di Balik Kisah Semangat Membatu Timnas U-19

Oleh: Deden Rochman Saputro, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad


Data Buku
Judul buku Semangat Membatu: Official Story Timnas U-19
Penulis : F.X. Rudy Gunawan & Guntur Cahyo Utomo
Penyunting : Nurjannah Intan & Muhammad Ghofur
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Tahun terbit : Februari, 2014
Tebal buku : 226 halaman
Harga : Rp. 49.000,00


Ada satu ciri khas yang sering dijumpai dalam buku Semangat Membatu: Official Story Timnas U-19, yakni berupa kutipan dari suatu potongan kalimat di tiap bagian dalam buku ini. Kutipan tersebut mempunyai makna mendalam, tegas, dan menjadi inti dari pembahasan perbagiannya. Ciri khas lainnya yaitu terdapat beberapa foto yang menggambarkan isi tulisan dan suasana nyata dari pemaparan buku tersebut.

       Ditulis dengan gaya berkisah yang khas layaknya feature berupa ragam kisah perjuangan para pemain dan tim pelatih Timnas U-19 dipadukan dengan kisah-kisah yang lucu dan jenaka, membuat pembaca merasa seolah-olah berada dalam kisah tersebut. Pembaca bisa langsung membayangkan bagaimana kisah-kisah itu menghiasi buku ini.

       Penulisan buku yang berkisah ini ditulis dengan ketulusan hati dari salah satu penulis, Guntur Cahyo Utomo yang secara langsung mengalami kisah nyata tersebut sehingga dapat menghadirkan senyum di ruang pembaca. Ditemani oleh F.X. Rudy Gunawan, penulisan buku ini menjadi lebih hidup karena dengan kemampuannya sebagai penulis buku sudah terbiasa menuliskan beberapa buku fiksi maupun nonfiksi termasuk buku inspiratif yang mampu memotivasi para pembacanya.

       “Tidak ada prestasi yang bisa dicapai tanpa melalui proses perjuangan” merupakan salah satu kutipan dalam buku ini. Kutipan itu menggambarkan perjalanan perjuangan Timnas U-19 dalam meraih ragam prestasi yang telah diraih. Timnas U-19 menjadi sebuah solusi untuk menunjukkan satu hal penting dalam pelajaran cinta Tanah Air, bangsa, dan negara atas berbagai prestasi gemilang mereka. Hal itu menjadi lembaran baru dalam sejarah bangsa Indonesia di kancah sepak bola dunia.

       Sepak bola sebagai tontonan yang memiliki daya pukau dan pesona yang sangat besar dan mampu menghipnotis jutaan orang dalam situasi dan kondisi apapun, tak peduli hujan atau panas. Sepak bola juga mampu menyatukan ragam kekuatan dan menembus berbagai kabut penghalang. Para pemain ibarat magnet yang mampu menarik semua perhatian para penonton.

       Anak-anak Timnas U-19 ibarat mutiara yang ditemukan di dasar lautan, karena coach Indra Sjahfri menemukan bakat-bakat mereka dengan cara blusukan ke berbagai daerah. Tanpa itu, bakat anak-anak tersebut bisa jadi tenggelam tak terlihat. Maka, Indra Sjahfi dan segenap tim pelatih mencari bibit-bibit unggul dari seluruh Indonesia bahkan dari pelosok nusantara untuk menciptkaan sebuah Timnas yang tangguh dan memiliki semangat optimisme yang tinggi.

       Olahraga secara umum, dan sepak bola khususnya, langsung mengajarkan kemampuan mengatasi masalah (problem solving) seperti menghadapi pressure (tekanan), mengatasi kekuatan lawan, kerja sama tim, sportivitas, bahkan integritas dalam suatu pendidikan mental yang bisa membentuk karakter kuat. Dengan adanya kompetisi akan melahirkan sosok yang siap menghadapi segala hasil yang didapatkannya, baik menang maupun kalah. Namun, yang terpenting dari itu semua adalah sikap pantang menyerah dan memiliki rasa optimis sekalipun diuji secara mental dan fisik.

       Begitu pula dengan kata coach Guntur yang merupakan pelatih mental Timnas U-19 selalu memberikan berbagai motivasi melalui berbagai metode seperti joget dangdut setelah latihan membuat para pemain Timnas U-19 rileks kembali. Bahkan tak segan, coach Guntur memberikan pendapatnya yang menjadi salah satu kutipan di buku ini, yaitu “Tiap orang bisa kalah, tetapi saya benci kekalahan. Saya tidak ingin kalah”. Hal itu menjelaskan sungguh pilihan kata yang cerdas dari seorang pelatih. Akan sangat berbeda dengan kata-kata seperti “Kalian harus menang. Tidak boleh kalah!”. Walau bermakna sama, pilihan kata atau diksi dalam hal ini sangat penting khususnya dalam proses pelatihan sepak bola. Kata-kata yang dipilih para pelatih harus tepat, positif, dan memiliki kekuatan sugesti dan berpengaruh pada psikologis para pemain.

       Sehari-hari di tengah hujan deras yang hampir tiap hari mengguyur Kota Batu, para pemain Timnas U-19 juga bertanggung jawab mengurus berbagai tugas dan kewajiban mereka, mulai dari mencuci sepatu sampai mengurus persiapan latihan. Mereka juga selalu tepat waktu sesuai jadwal yang sudah ditentukan para pelatih. Para pelatih memberi teladan dan contoh konkret, bukan sekadar pidato berapi-api atau omong kosong tanpa juntrungan.

       Semua hal sederhana itu adalah batu fondasi untuk menjadi pemenang, menjadi sang juara. Semua hal sederhana itu adalah ramuan untuk menciptakan batu tekad yang kuat dan tahan badai. Batu tekad yang mampu memberantas semua halangan sebesar dan sesulit apa pun dalam perjalanan menuju Piala Dunia U-20 2015. Namun, Timnas U-19 dan Piala Dunia U-20 bukanlah tujuan akhir. Para pemain dan tim pelatih Timnas U-19 sudah menjadi keluarga “Garuda Muda” yang saling melengkapi.

       Buku ini mengajarkan kepada kita akan pentingnya sebuah perjuangan yang diawali dengan dasar tekad dan semangat kuat membentuk suatu semangat bernama semangat membatu, diambil dari sebuah kota di Jawa Timur sebagai tempat latihan Timnas U-19. Semangat membatu merupakan semangat yang benar-benar tertancap dalam dada, raga, dan jiwa para punggawa dan tim pelatih Timnas U-19 dalam mengibarkan Sang Saka Merah Putih di pentas dunia. Kobaran semangat itu dilandasi pula dengan semangat patriotisme dan nasionalisme sebagai bangsa Indonesia yang kuat tekadnya dalam menjaga harkat dan martabat bangsanya khususnya melalui sepak bola. 


Resensi buku ini dimuat di harian umum Pikiran Rakyat, edisi Kami, 23 Oktober 2014 pada rubrik Kampus