Hi-Tech Student Day 2012

Hi-Tech Student Day 2012
Foto bersama Kakak-Kakak Pramuka Unpad dengan Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia usai upacara peringatan HUT RI ke-68 pada Sabtu (17/8/2013) di Kampus Unpad Dipatiukur, Bandung

Kamis, 15 Januari 2015

Opini Olah Raga 1

Kembalikan Supremasi Olah Raga Indonesia

Oleh: Deden Rochman Saputro, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

Perhelatan Asian Para Games 2014 di Incheon, Korea Selatan yang digelar pada 18-24 Oktober lalu menjadi wadah tersendiri bagi para atlet berkebutuhan khusus untuk bisa berprestasi di pentas internasional. Setidaknya hal itu yang mampu ditunjukkan oleh para altet difabel Indonesia yang telah berjuang di pentas olah raga muliticabang se-Asia tersebut. Berbagai persiapan yang mereka lakukan sebelumnya, akhirnya sedikit demi sedikit membuahkan hasil manis dengan berbagai raihan medali emas.

Kabar menggembirakan itu datang dari berbagai cabang yang diikuti para atlet difabel Indonesia seperti bulu tangkis, tenis meja, dan renang. Bahkan Indonesia mampu memecahkan rekor dunia dan Asia melalui atlet renang Mulyana dan Melianus Marinus Yowei. Mereka tampil dengan luar biasa dalam mencapai kemenangan. Hingga akhir penyelenggaraan APG 2014, Indonesia berada di peringkat kesembilan dengan raihan 9 medali emas,11 perak, dan 18 perunggu. Hal ini justru mampu mengalahkan raihan medali emas Asian Games 2014 beberapa pekan lalu yang berada di posisi 17 dengan 4 medali emas, 5 perak, dan 11 perunggu .

Keberhasilan para atlet difabel tersebut mungkin tidak bisa disamakan seutuhnya dengan para atlet yang dalam kondisi normal. Tetapi, semangat gigih pantang menyerah itulah yang seharusnya dapat diikuti oleh para atlet dengan kondisi normal untuk lebih berprestasi di pentas olah raga internasional. Walaupun para atlet difabel mengalami kekurangan secara fisiknya, namun secara mental mereka boleh dikatakan kuat dan siap menghadapi berbagai tantangan untuk bisa berprestasi.

Dengan semangat dan daya juang yang begitu besar, para atlet difabel Indonesia mampu menunjukkan kepada dunia bahwa dengan kekurangan yang mereka miliki justru bisa berubah menjadi suatu kelebihan yang tak terduga. Buktinya, mereka mampu berprestasi di pentas olah raga dunia dengan kepercayaan diri yang tinggi dan usaha yang besar dalam mencapai prestasi yang membanggakan, salah satunya melalui ajang APG 2014.

Di samping berbagai prestasi cemerlang tersebut, pada kenyataannya olah raga kita masih menyisakan berbagai persoalan klasik, seperti pendanaan dan pembinaan. David Jacobs pun berharap kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan olah raga khususnya olah raga bagi kategori difabel. “Pembinaan secara keseluruhan wajib dilakukan, mulai dari perencanaan, pembiayaan pada saat pelatnas, hingga memperhatikan kesejahteraan atlet,” ungkap atlet tenis meja tersebut dalam Harian Bola edisi 20 Oktober 2014 lalu.

Dalam keterbatasannya, para atlet difabel Indonesia mampu menunjukkan kelebihannya dan bisa menciptakan prestasi yang membanggakan. Itulah yang dinamakan dengan semangat membara para atlet difabel Indonesia yang sungguh luar biasa daya juangnya. Maka kita pun bisa menantikan catatan-catatan prestasi mereka di pentas olah raga internasional lainnya, guna mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia di pentas dunia. Tentu hal tersebut bisa tercapai dengan syarat harus benar-benar disokong oleh pemerintah.

Selain dukungan moril yang diberikan kepada para atlet Indonesia, sudah sewajarnya pula pemerintah memberikan bentuk dukungan materil berupa pendanaan dan sarana yang memadai kepada para atlet, tim pelatih, dan pengurus cabang olah raga. Jangan sampai prestasi olah raga kita selama ini mandek karena kurangnya sokongan tersebut. Sudah cukup kita hanya bisa mengintil dari belakang negara-negara Asia lainnya yang mulai berkembang prestasinya di bidang olah raga, seperti Vietnam, Mongolia, bahkan Korea Utara.

Prestasi terbaik olah raga Indonesia dalam perhelatan multicabang terjadi kala Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962 dengan menduduki peringkat kedua setelah Jepang. Saat itu, kekuatan olah raga Indonesia hampir merata di semua cabang olah raga. Tidak hanya bulu tangkis saja yang sudah terkenal dengan berbagai prestasi gemilangnya, bahkan tim nasional sepak bola kita kala itu mampu menjadi penghuni empat besar kekuatan sepak bola Asia dan hampir masuk Piala Dunia.

Di manakah “Macan Asia” olah raga tersebut yang sempat bersemayam di raga dan jiwa rakyat Indonesia? Bukankah dahulu pemerintah mencanangkan program, “memasyaratkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat”? Rupanya hal itu masih jauh api dari panggang, karena pemerintah masih berkelit dari kewajibannya dalam menyukseskan programnya sendiri dan belum menjadikan para atlet yang sudah ada layaknya para pahlawan olah raga di pentas dunia.

Program pelatihan khusus atlet dalam meraih medali emas di pentas multicabang haruslah dioptimalkan dengan baik dan berkesinambungan melalui Program Indonesia Emas (Prima). Jangan sampai putus dari era satu pemerintahan ke pemerintahan selanjutnya. Mulailah membuat kebijakan program olah raga  berjenjang dan berkelanjutan yang efektif bagi para atlet kita.

Mari kita berkaca dengan negara-negara yang sudah maju sistem pola pembinaan olah raganya, seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Pemerintah di ketiga negara tersebut tidak tanggung-tanggung dalam mendukung bidang olah raga negaranya karena melalui olah raga bisa menjadi salah satu tolak ukur kehormatan suatu bangsa. Dengan begitu, mereka bisa disegani dan lebih dikenal oleh negara-negara lainnya karena mampu menunjukkan prestasi yang bagus dalam bidang olah raga.

Diharapkan pemerintahan Jokowi-JK bisa menghadirkan berbagai solusi perubahan yang nyata dalam memajukan pembinaan olah raga  Indonesia dan tak lupa memperhatikan kesejahteraan para atlet. Di masa bakti 2014-2019, Jokowi-JK juga harus bisa memulai berinvestasi di ranah olah raga. “Pemerintah yang baru harus bisa berinvestasi di olah raga karena bidang ini membuat Indonesia semakin dikenal. Paling tidak, contohlah Tiongkok yang sangat maju dalam membina olah raga,” kata Risa Suseanty yang merupakan atlet sepeda downhill dalam Harian Bola edisi 21 Oktober 2014. Dengan begitu Indonesia akan siap menghadapi perhelatan olah raga multicabang tingkat Asia manakala Indonesia bertindak sebagai tuan rumah Asian Games 2018.

Dalam hal ini, tentu saja pemerintah harus bisa mengerahkan segenap potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada guna dilatih dan dididik menjadi atlet tangguh dan berprestasi sejak usia dini. Apalagi penduduk Indonesia merupakan terbesar keempat di dunia dengan total penduduk sekitar 250 juta jiwa. Apa tidak malu dengan Singapura yang hanya berpenduduk kurang dari 10 juta jiwa mampu berprestasi lebih di kancah olah raga dunia? Kita juga berharap melalui pemerintahan yang baru ini, mampu memberikan dukungan penuh bagi perjuangan para atlet kita dalam mengembalikan supremasi olah raga Indonesia di kancah internasional. 

Sabtu, 11 Oktober 2014

Resensi Buku


Di Balik Kisah Semangat Membatu Timnas U-19

Oleh: Deden Rochman Saputro, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad


Data Buku
Judul buku : Semangat Membatu: Official Story Timnas U-19
Penulis : F.X. Rudy Gunawan & Guntur Cahyo Utomo
Penyunting : Nurjannah Intan & Muhammad Ghofur
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Tahun terbit : Februari, 2014
Tebal buku : 226 halaman
Harga : Rp. 49.000,00


Ada satu ciri khas yang sering dijumpai dalam buku Semangat Membatu: Official Story Timnas U-19, yakni berupa kutipan dari suatu potongan kalimat di tiap bagian dalam buku ini. Kutipan tersebut mempunyai makna mendalam, tegas, dan menjadi inti dari pembahasan perbagiannya. Ciri khas lainnya yaitu terdapat beberapa foto yang menggambarkan isi tulisan dan suasana nyata dari pemaparan buku tersebut.

       Ditulis dengan gaya berkisah yang khas layaknya feature berupa ragam kisah perjuangan para pemain dan tim pelatih Timnas U-19 dipadukan dengan kisah-kisah yang lucu dan jenaka, membuat pembaca merasa seolah-olah berada dalam kisah tersebut. Pembaca bisa langsung membayangkan bagaimana kisah-kisah itu menghiasi buku ini.

       Penulisan buku yang berkisah ini ditulis dengan ketulusan hati dari salah satu penulis, Guntur Cahyo Utomo yang secara langsung mengalami kisah nyata tersebut sehingga dapat menghadirkan senyum di ruang pembaca. Ditemani oleh F.X. Rudy Gunawan, penulisan buku ini menjadi lebih hidup karena dengan kemampuannya sebagai penulis buku sudah terbiasa menuliskan beberapa buku fiksi maupun nonfiksi termasuk buku inspiratif yang mampu memotivasi para pembacanya.

       “Tidak ada prestasi yang bisa dicapai tanpa melalui proses perjuangan” merupakan salah satu kutipan dalam buku ini. Kutipan itu menggambarkan perjalanan perjuangan Timnas U-19 dalam meraih ragam prestasi yang telah diraih. Timnas U-19 menjadi sebuah solusi untuk menunjukkan satu hal penting dalam pelajaran cinta Tanah Air, bangsa, dan negara atas berbagai prestasi gemilang mereka. Hal itu menjadi lembaran baru dalam sejarah bangsa Indonesia di kancah sepak bola dunia.

       Sepak bola sebagai tontonan yang memiliki daya pukau dan pesona yang sangat besar dan mampu menghipnotis jutaan orang dalam situasi dan kondisi apapun, tak peduli hujan atau panas. Sepak bola juga mampu menyatukan ragam kekuatan dan menembus berbagai kabut penghalang. Para pemain ibarat magnet yang mampu menarik semua perhatian para penonton.

       Anak-anak Timnas U-19 ibarat mutiara yang ditemukan di dasar lautan, karena coach Indra Sjahfri menemukan bakat-bakat mereka dengan cara blusukan ke berbagai daerah. Tanpa itu, bakat anak-anak tersebut bisa jadi tenggelam tak terlihat. Maka, Indra Sjahfi dan segenap tim pelatih mencari bibit-bibit unggul dari seluruh Indonesia bahkan dari pelosok nusantara untuk menciptkaan sebuah Timnas yang tangguh dan memiliki semangat optimisme yang tinggi.

       Olahraga secara umum, dan sepak bola khususnya, langsung mengajarkan kemampuan mengatasi masalah (problem solving) seperti menghadapi pressure (tekanan), mengatasi kekuatan lawan, kerja sama tim, sportivitas, bahkan integritas dalam suatu pendidikan mental yang bisa membentuk karakter kuat. Dengan adanya kompetisi akan melahirkan sosok yang siap menghadapi segala hasil yang didapatkannya, baik menang maupun kalah. Namun, yang terpenting dari itu semua adalah sikap pantang menyerah dan memiliki rasa optimis sekalipun diuji secara mental dan fisik.

       Begitu pula dengan kata coach Guntur yang merupakan pelatih mental Timnas U-19 selalu memberikan berbagai motivasi melalui berbagai metode seperti joget dangdut setelah latihan membuat para pemain Timnas U-19 rileks kembali. Bahkan tak segan, coach Guntur memberikan pendapatnya yang menjadi salah satu kutipan di buku ini, yaitu “Tiap orang bisa kalah, tetapi saya benci kekalahan. Saya tidak ingin kalah”. Hal itu menjelaskan sungguh pilihan kata yang cerdas dari seorang pelatih. Akan sangat berbeda dengan kata-kata seperti “Kalian harus menang. Tidak boleh kalah!”. Walau bermakna sama, pilihan kata atau diksi dalam hal ini sangat penting khususnya dalam proses pelatihan sepak bola. Kata-kata yang dipilih para pelatih harus tepat, positif, dan memiliki kekuatan sugesti dan berpengaruh pada psikologis para pemain.

       Sehari-hari di tengah hujan deras yang hampir tiap hari mengguyur Kota Batu, para pemain Timnas U-19 juga bertanggung jawab mengurus berbagai tugas dan kewajiban mereka, mulai dari mencuci sepatu sampai mengurus persiapan latihan. Mereka juga selalu tepat waktu sesuai jadwal yang sudah ditentukan para pelatih. Para pelatih memberi teladan dan contoh konkret, bukan sekadar pidato berapi-api atau omong kosong tanpa juntrungan.

       Semua hal sederhana itu adalah batu fondasi untuk menjadi pemenang, menjadi sang juara. Semua hal sederhana itu adalah ramuan untuk menciptakan batu tekad yang kuat dan tahan badai. Batu tekad yang mampu memberantas semua halangan sebesar dan sesulit apa pun dalam perjalanan menuju Piala Dunia U-20 2015. Namun, Timnas U-19 dan Piala Dunia U-20 bukanlah tujuan akhir. Para pemain dan tim pelatih Timnas U-19 sudah menjadi keluarga “Garuda Muda” yang saling melengkapi.

       Buku ini mengajarkan kepada kita akan pentingnya sebuah perjuangan yang diawali dengan dasar tekad dan semangat kuat membentuk suatu semangat bernama semangat membatu, diambil dari sebuah kota di Jawa Timur sebagai tempat latihan Timnas U-19. Semangat membatu merupakan semangat yang benar-benar tertancap dalam dada, raga, dan jiwa para punggawa dan tim pelatih Timnas U-19 dalam mengibarkan Sang Saka Merah Putih di pentas dunia. Kobaran semangat itu dilandasi pula dengan semangat patriotisme dan nasionalisme sebagai bangsa Indonesia yang kuat tekadnya dalam menjaga harkat dan martabat bangsanya khususnya melalui sepak bola. 


Resensi buku ini dimuat di harian umum Pikiran Rakyat, edisi Kami, 23 Oktober 2014 pada rubrik Kampus



Sabtu, 26 April 2014

"Every Trail Start Here"

Menembus Puncak Cikuray

oleh: Deden Rochman Saputro


Tahukah kamu di mana letak tanah tertinggi di Garut, Jawa Barat? Menelusuri lebih dalam kawasan penghasil dodol ini, terdapat Gunung Cikuray yang merupakan tanah tertinggi "Swiss Van Java" julukan untuk Garut. Ketinggian Gunung Cikuray mencapai 2.814 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Gunung Cikuray di tanah "Swiss Van Java", Garut, Jawa Barat (Foto: Google.com)
Di penghujung tahun 2011, tepatnya 2-4 Desember menjadi edisi pertama pendakian pertamaku. Ya, pendakian bersama kawan-kawan Pramuka Unpad ke Gunung Cikuray yang diawali dengan sambutan guyuran hujan yang menghiasi sepanjang perjalanan kami dari Jatinangor sampai di Garut. Waktu itu, kami berangkat sore sekitar pukul 16.00 WIB dan hingga petang hari, hujan masih enggan berhenti. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat kami untuk bisa menggapai Puncak Cikuray.

Saat malam tiba, kami pun istirahat sejenak untuk makan, sholat, mengecek perlengkapan, dan briefing bersama. Briefing dilakukan untuk mengetahui medan pendakian yang kami akan tempuh. Pengecekan perlengkapan juga dilakukan untuk memastikan perjalan kami tercukupi dengan perbekalan yang sudah disiapkan sebelumnya. Kami juga melakukan peregangan otot-otot badan setelah beberapa langkah menelusuri perkebunan teh kaki Gunung Cikuray.

Peregangan otot-otot badan (Dok. Pramuka Unpad)
Berhubung hujan baru saja reda, maka kami harus berhati-hati melintasi tanah yang gembur dan jalan batu yang licin. Kami melintasi perkebunan teh yang terletak di kaki Gunung Cikuray ditemani dengan suara jangkrik tanpa adanya penerangan. Walaupun begitu, kami tetap asyik menikmati perjalanan ini karena sesekali diselipi canda-tawa dari kakak-kakak Pramuka Unpad.

Saat memasang tenda di kaki Gunung Cikuray ditemani sinar sang rembulan, 2 Desember 2011 pukul 23.47 WIB
(Dok. Pramuka Unpad)
Tatkala malam sudah semakin larut, kami memutuskan untuk beristirahat dengan memasang tenda di sekitar kebun teh. Sinar sang rembulan yang begitu indah menemani kami di kaki Gunung Cikuray. Dari sana, terlihat kerlap-kerlip Garut dan Tasikmalaya. Wah, sungguh indah ciptaan Sang Maha Pencipta.

Esok harinya, kami melanjutkan perjalanan kami dan tidak lupa untuk leave no trace yakni tidak meninggalkan sesuatu apapun selain jejak kami. Sebelum perjalanan dilanjutkan, kami menggunakan peta navigasi sebagai panduan pendakian ke Puncak Cikuray. Kami juga menimbang barang bawaan kami yang ada dalam tas keril. Kami pun membagi-bagi berat beban tas keril sama rata supaya "berat sama dijinjing, ringan sama dipikul". Dengan begitu, merupakan awal dari pembentukan kekompakan dan kekeluargaan di antara kami.

Pesona alam kaki Gunung Cikuray kala pagi hari (Dok. Pramuka Unpad)
Jalur menuju Puncak Cikuray sebenarnya sudah ada, namun sebagai calon anggota (caang) Pramuka Unpad, saya dan 13 orang lainnya diminta mencari jalur lain dengan kemampuan peta navigasi yang sudah diajarkan saat materi kelas sebelumnya. Saat pendakian inilah, kami langsung mempraktekan berbagai materi perjalanan dan pendakian ke gunung. Walau kami disuruh untuk bisa mandiri, tetapi kakak-kakak panitia lainnya tetap mendampingi kami. Ada yang bertindak sebagai advance (kelompok pendakian paling depan) maupun sweeper (kelompok pendakian paling belakang). 

                              

Di tengah perjalanan, sesekali kami berhenti untuk istirahat khususnya menunggu kawan kami yang memang belum terbiasa mendaki gunung. Kami saling memberikan dukungan dan motivasi untuk bisa mencapai Puncak Cikuray bersama-sama. Langkah demi langkah kami lalui dan tibalah kami di puncak bayangan Gunung Cikuray. Kabut pun menyelimuti puncak bayangan kala sore itu saat kami memasang tenda untuk bermalam.

Kabut menyelimuti puncak bayangan Gunung Cikuray (Dok. Pramuka Unpad)
Bermalam di puncak bayangan Gunung Cikuray memberikan kesan yang mendalam manakala kami saling mencoba menghangatkan diri satu sama lain, yakni dengan masak dan makan malam bersama. Kemudian, dilanjut dengan perkenalan sambil meminum segelas teh hangat disertai canda-tawa. Suasana itulah yang diidam-idamkan oleh setiap pendaki gunung bisa berkumpul dan bercengkrama bersama sepanjang perjalanan supaya berkesan dan tak terasa medan yang harus dilalui.

                              

Di pertengahan malam, kami pun harus melanjutkan perjalanan supaya bisa mengejar waktu untuk bisa melihat matahari terbit dari Puncak Cikuray. Dengan susah payah saya dan kawan-kawan caang membereskan perlengkapan mendaki gunung di tengah tidur kami. Kami harus sigap mengikuti segala instruksi kakak-kakak panitia.

Setapak demi setapak perjalanan kami lalui, sampai setitik tanah datar terlihat dari kejauhan. Saya pun semakin bersemangat menggapai puncak tertinggi di Garut, Jawa Barat bersama kawan-kawan Pramuka Unpad. Akhirnya, kami pun tiba di puncak Gunung Cikuray. Horeee, betapa senangnya perasaan kami saat itu. Namun, saya dan kawan-kawan caang harus dibariskan terlebih dahulu sebelum benar-benar bisa mencicipi indahnya semesta alam dari Puncak Cikuray.

Kumandang azan shubuh terdengar samar-samar, tanda waktu sholat shubuh tiba. Kami masih dibariskan untuk dimintai kesanggupan untuk menjadi anggota Pramuka Unpad seutuhnya. Kami pun sholat shubuh bersama di atas Gunung Cikuray, subhanallah ku panjatkan doa syukur kami bisa melaksanakan ibadah kepada Sang Maha Pencipta di salah satu ciptaan-Nya. Upacara pelantikan dilanjutkan dan akhirnya saya dan kawan-kawan caang secara sah dilantik sebagai anggota Pramuka Unpad.

Gugusan Awan dari Puncak Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat (Foto: Google.com)
Sang mentari bersinar dengan indahnya dari ufuk timur Gunung Cikuray, menandakan pagi hari siap menyambut kami di puncak tertinggi "Swiss Van Java". Gugusan awan bak samudera langit di angkasa membentang luas dari pengamatan kami ketika berada di Puncak Cikuray. Kami pun tak segan untuk segera foto bersama untuk dijadikan kenangan sepanjang hayat kami. Seperti prinsip pendaki yang tidak meninggalkan jejak apapun, selain foto. Maka prinsip leave no trace juga telah kami terapkan sebagai bentuk tanggung jawab seorang pendaki.

Saya dan kawan-kawan angkatan Puncak Cikuray 48 Pramuka Unpad (Dok. Pramuka Unpad)

Sungguh pengalaman yang luar biasa manakala bisa menembus Puncak Cikuray yang begitu dahsyat keindahannya. Pengalaman yang telah menguras fisik, mental, dan emosi kami namun berbuah manis usai melewati tantangan bersama. Semoga perjalanan ini menjadi titik awal kami membangun kekeluargaan dan menyikapi setiap tantangan dengan arif dan bijak.

Sabtu, 30 November 2013

Pembekalan Umum KKNM Januari 2014

Bismillah...
Sabtu (30/11/2013)

Akhir bulan ini diadakan pembekalan umum Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa atau disingkat dengan KKNM. Program ini merupakan program rutin yang dilaksanakan oleh LPPM Unpad setiap dua kali setahun di akhir semester dalam rangka memperkenalkan mahasiswa dengan kehidupan di pedesaan dan memberikan kontribusi nyata oleh mahasiswa untuk para warga desa. Hal inilah yang mendasari saya dkk angkatan 2011 umumnya mengikuti program KKNM ini. Walaupun sebenarnya jatah angkatan 2011 untuk mengikuti KKNM Januari tahun depan, namun ada juga angkatan 2010 yang baru ikut KKNM. Di kelompok saya pun ada angkatan 2010 dan tentu saja angkatan 2011 yang tergabung dalam kelompok KKNM Desa Cibalanarik, Kec. Tanjungjaya, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat.

Jadwal pembekalan KKNM kelompok saya pukul 10:00-12:00 WIB namun baru dimulai pukul 10:15 WIB di Fakultas Peternakan (Fapet) Unpad di gedung 4 lantai 2 ruang 8. Saya pun segera bergegas menuju fakultas yang berhubungan erat dengan hewan ternak itu dan sampai pukul 10:20 WIB. Saya datang sedikit terlambat, karena sempat tidak tahu jadwal pembekalan kelompok Cibalanarik. Ketika saya masuk ke ruangan, saya diminta untuk memperkenalkan diri. Ternyata di dalam ruangan tidak hanya kelompok Cibalanarik saja, tapi juga ada kelompok desa tetangga.

Setelah pembekalan KKNM selesai, saya dkk kelompok Cibalanarik berkumpul dan berkenalan satu sama lainnya. Ada kata pepatah bilang, "Tak Kenal, Maka Tak Sayang", nah untuk itulah saya berinisiatif memulai perkenalan tersebut dan supaya nanti saat kami bersama-sama KKNM di satu desa yang sama, kami sudah bisa membaur dan bisa saling berkerjasama. Saat perkenalan tadi ada 16 orang yang hadir dari total 18 orang. Dua orang lagi adalah teman-teman saya di UKM Pramuka Unpad, yakni Dudi dari FIB dan Wahyu dari Fapet. Kebetulan mereka sedang mengikuti masa penerimaan anggota baru Pramuka Unpad di Garut. Saya sendiri tidak bisa ikut karena ada beberapa agenda dan tentu saja menghadiri pembekalan KKNM ini.

Inti dari pembekalan KKNM tadi adalah ketika kita mengikuti KKNM itu bukan sekadar liburan, seperti yang didengung-dengungkan oleh para senior. Setiap kali saya bertanya ke senior mengenai KKNM, pasti rata-rata mereka langsung bilang kalau kita nanti liburan. Tapi sebenarnya bukan begitu loh. Memang KKNM itu saat waktu liburan, namun yang benar adalah "belajar dari masyarakat" begitulah yang disampaikan oleh Pak Fredy yang mengisi pembekalan kepada saya dkk. Kalau saya boleh bilang, KKNM itu ajang kita bermain sambil belajar seperti konsep PAUD. Cuman kali ini diubah jadi "liburan sambil belajar". Jadi memang yang utama kita untuk belajar dari kehidupan di desa dan tentu saja bisa pula liburan, liburan yang bermanfaat pastinya.

Melalui KKNM, saya dkk berharap bisa mendekatkan diri dengan warga desa mengenai kehidupan sebenarnya di pedesaan itu seperti apa dan bagaimana pula mereka bisa menjalankan aktivitasnya yang mungkin saja serba kekurangan tanpa fasilitas lengkap seperti di kota. Lalu, kami juga bisa saling memahami satu sama lain dalam satu kelompok KKNM untuk saling bekerjasama, gotong-royong, musyawarah, menghargai, dan berempati.

Oh ya, sejak sekarang saya dkk harus lebih giat belajar bahasa Sunda dengan baik, ya minimal tahu bagaimana tata cara berbicara yang sopan dengan bahasa tanah pasundan dan mengenal kebudayaannya. Kearifan lokal tersebut harus diketahui oleh teman-teman yang mengikuti KKNM supaya tidak canggung dan mudah beradaptasi dengan masyarakat dan lingkungan desa.

Oke deh, sekian catatan hari ini. Semoga KKNM nanti bisa lancar dan sukses deh untuk kelompok Cibalanarik yang insyAllah anak2nya asyik dan tempatnya menarik untuk dikunjungi :)

Wassalam...

*selanjutnya insyaAllah saya dkk Kelompok Cibalanarik akan survei ke tempat KKNM kami pada Sabtu depan (7/12/2013). Namun apabila tidak pada bisa, terpaksa harus diundur dan disepakati bersama lagi untuk survei.

Rabu, 11 September 2013

Tak Ada Kata Kalah dan Menyerah

B



agi seorang Nick Vujicic, menjalani kehidupan di dunia dengan bahagia merupakan anugerah terbesar yang diberikan Sang Maha Pencipta kepada setiap manusia. Perjalanan hidup seorang manusia pasti memiliki ragam lika-liku kehidupan, baik kebahagiaan dan kesedihan yang saling silih berganti hinggap dalam hidup manusia. Namun Nick Vujivic mampu menyelaraskan kehidupannya dengan penuh keikhlasan dan kebahagiaan walau ada sisi kesedihan di dalamnya karena sebagian orang turut berempati dengan kondisi yang dialaminya. 
Gambar 1. Salah satu quote (kutipan) yang dibuat oleh Nick Vujicic. Dalam kutipan kata-katanya mengandung arti
“Saya Suka Menjalani Hidup. Saya bahagia”

Ya, Nick Vujicic memiliki keterbatasan fisik yang memang sangat tidak mungkin untuk beraktivitas secara leluasa. Tapi hebatnya Nick Vujicic mampu menunjukkan kepada dunia bahwa dia bisa bertahan hidup di tengah keterbatasannya. Sungguh hal yang luar biasa dan patut dijadikan bahan renungan untuk kita semua yang masih diberikan kecukupan fisik yang normal.
Pria yang lahir di Melbourne pada 4 Desember 1982 ini terlahir dengan keterbatasan fisik dan tak sesempurna seperti manusia pada umumnya. Hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus melanjutkan hidupnya dan terus memotivasi orang lain untuk menyukuri hidup. Hidup hanya sekali, dan untuk apa hanya digunakan untuk berkeluh kesah dan tak ada gairah. Sungguh orang seperti itu tidak punya rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang telah memberikan berbagai nikmat kepada kita sebagai manusia yang memiliki akal dan diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna. Kesempurnaan bukan sebatas lengkap secara fisik dan normal seperti kebanyakan manusia lainnya, namun sempurna di sini adalah diberikannya akal dan pikiran yang bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh setiap manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia untuk meraih surga-Nya sebagai tempat kehidupan yang kekal di akhirat nanti.
Pada mulanya, orang tua Nick Vujicic sangat terkejut ketika melihat keadaan putra mereka yang lahir tanpa dua lengan dan dua kaki. Menurut dokter yang menanganginya, Nick terkena penyakit Tetra-amelia yang sangat langka. Kondisi ini kontan membuat ayah Nick (seorang pemuka agama dan programmer komputer) dan ibu Nick (seorang perawat) bertanya-tanya dalam hati, kesalahan besar apa yang telah mereka perbuat hingga putranya terlahir tanpa anggota-anggota tubuh.
Kondisi Nick yang seperti itu, lantas tak membuat ayah dan ibunya langsung berputus asa dan tidak bersyukur atas anugerah Tuhan yang menjadi amanah mereka sebagai orang tua. Ayah Nick pun mengajarinya untuk berdiri, menyeimbangan tumbuhnya, dan bahkan berenang sejak usia 18 bulan. Saat berusia 6 tahun, Nick diajari oleh ayahnya untuk menulis, mengambil barang, dan mengetik menggunakan jari-jari kakinya. Dengan tekun dan penuh kesabaran, usaha ayahnya itu berbuah manis sampai akhirnya Nick bisa terbiasa menggunakan jari-jarinya itu untuk menunjang berbagai aktivitasnya. Tentu saja, bisa karena terbiasa dan hal itulah yang Nick coba terus lakukan dengan tidak menyerah pada keadaan dan belajar hidup mandiri seperti yang diajarkan ayahnya. Kini, Nick menyebut telapak kakinya yang berharga itu sebagai "my chicken drumstick."
Di suatu pagi, saat usia 12 tahun, Nick mendapat pengalaman tak terlupakan. Saat bangun dan membuka matanya, tiba-tiba saja dia menyadari betapa beruntungnya dirinya. Dia sehat, serta punya keluarga dan para sahabat yang menyayanginya dan dia juga hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Setahun berikutnya ketika membaca surat kabar, Nick dan ibunya menemukan sebuah artikel yang sangat menggugah jiwanya. Dalam artikel itu mengisahkan seorang pria cacat tubuh yang mampu melakukan hal-hal hebat, termasuk menolong banyak orang. "Pada saat itulah, saya menyadari bahwa Tuhan memang menciptakan kita untuk berguna bagi orang lain. Saya memutuskan untuk bersyukur, bukannya marah, atas keadaan diri sendiri! Saya juga berharap, suatu saat bisa menjadi seperti pria luar biasa itu-yakni bisa menolong dan menginspirasi banyak orang!" begitulah ungkap Nick dalam sebuah wawancara.
Nick belajar dengan giat untuk meraih mimpinya. Dengan kecerdasan yang dimilikinya, dia mampu meraih gelar Sarjana Ekonomi bidang Akuntansi dan Perencanaan Keuangan pada usia 21 tahun. Beberapa waktu kemudian, dia mengembangkan lembaga non-profit ‘Life Without Limbs' (Hidup Tanpa Anggota-Anggota Tubuh) yang telah didirikan sebelumnya saat dia berusia 17 tahun untuk membantunya berkarya dalam bidang motivasi. Saat ini, Nick Vujicic adalah motivator atau pembicara internasional yang boleh dibilang cukup gemilang. Sudah lebih dari 44 negara termasuk Indonesia dia kunjungi untuk memotivasi lebih dari 5 juta orang khususnya kaum muda (nickvujicic.com, 2013).
Nick Vujicic telah menginspirasi banyak orang dari berbagai kalangan melalui serangkaian seminar motivasinya di berbagai tempat termasuk di sekolah dan konferensi perusahaan . Siswa sekolah mendengar tentang pentingnya memiliki sikap syukur, citra diri yang positif, keberanian untuk bermimpi besar, dan ketekunan untuk tidak pernah menyerah. Dia menyajikan nilai-nilai, prinsip, sikap, perspektif yang menantang dan melengkapi orang-orang dari semua lapisan masyarakat untuk mengatasi tantangan hidup mereka (nickvujicic.com, 2013).
Nick berpesan bahwa tidak ada yang harus disesali dari apa yang telah kita terima sebagai insan manusia. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai manusia bisa memberikan manfaat seluas-luasnya untuk orang lain dan lingkungan di sekitar kita. Hal itulah sebagai rasa syukur kita kepada Sang Maha Pencipta.
Untuk mencapai berbagai impian hidup menjadi nyata dimulai dari diri kita sendiri dan bahkan saat kita memulai impian tersebut. Maka bergegaslah mencapai impian-impian itu menjadi sebuah kenyataan sebagai bentuk rasa syukur telah diciptakan di dunia dan menebar manfaat seluas-luasnya untuk kehidupan kekal kelak di akhirat. Setidaknya jika seorang manusia terlahir dengan keterbatasan apapun, dia masih mempunyai semangat hidup untuk menginspirasi, berbagi dan berempati terhadap sesama manusia yang punya tujuan hidup dan cita-cita.
“Dream big my friend and never give up. We all make mistakes, but none of us are mistakes. Take one day at a time. Embrace the positive attitudes, perspectives, principles and truths I share, and you too will overcome.” (attitudeisaltitude.com, 2013).
“Bermimpi besar teman ku dan jangan pernah menyerah. Kita semua pernah membuat kesalahan, namun tidak satupun dari kita adalah kesalahan. Ambil satu hari pada satu waktu. Merangkul sikap positif, perspektif, prinsip dan kebenaran aku bagi, dan Anda juga akan bisa mengatasinya”, tutur Nick.
Nick mengajarkan kita untuk bersyukur dan menjalani kehidupan ini dengan penuh makna dan cita-cita yakni dengan selalu berpikir positif kepada Sang Maha Pencipta yang telah memberikan kesempatan kita untuk hidup di dunia yang hanya sementara. Ketika kita berpikir positif kepada Sang Maha Pencipta kita, maka kita pun turut menjernihkan segala bentuk energi dan akal pikiran kita untuk bertindak penuh semangat dalam menjalani hidup ini dengan optimis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki dan memberikan jalan-Nya kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh dengan niat tulus dan ikhlas menolong sesama hidup dan menginspirasi banyak orang dengan berbagai manfaat yang bisa seseorang berikan kepada orang lain.
Janganlah kalah sebelum berperang, sebelum mengetahui medan yang akan dihadapi. Karena sesungguhnya manusia itu diberikan cobaan oleh Sang Maha Pencipta tidak melebihi kemampuannya. Maka berusahalah dengan keras dan senantiasa berdoa kepada Sang Maha Kuasa supaya dimudahkan segala urusan kita oleh-Nya untuk mencapai kehidupan abadi di akhirat-Nya dengan selamat. Tentu saja sebagai manusia harus selalu punya rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya dalam hidup kita walau sekecil apapun itu.
Saat diterpa badai ujian kehidupan, maka kita jangan mudah putus asa dan menyerah, karena kita masih diberikan akal dan pikiran untuk dapat menyelesaikan segala permasalahan kita. Dengan kita terus berdoa dan berusaha, niscaya pertolongan Sang Maha Pencipta akan datang sendirinya melalui berbagai perantara dan hidayah-Nya karena Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar serta Maha Adil.
Dari situlah, nampak jelas kekuasaan Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, salah satunya melalui perjalanan hidup seorang Nick Vujicic yang pantang menyerah dalam menjalani hari-hari dengan penuh semangat untuk saling berbagi, berbagi kebahagiaan dan manfaat. Kini, Nick telah mempunyai seorang istri bernama Kanae Miyahara dan tinggal di Amerika Serikat untuk melanjutkan semangat hidupnya dan berbagi pengalaman inspiraitf lainnya kepada orang lain supaya mampu memaknai hidup dengan penuh warna dan rasa syukur luar biasa kepada Sang Maha Pencipta.

***
Referensi:
Biografi Tokoh Dunia, 2013. Biografi Nick Vujicic - Bukti Tuhan Maha Adil. Diakses dari http://kolom-biografi.blogspot.com/2012/02/biografi-nick-vujicic-bukti-tuhan-maha.html pada Rabu, 11 September 2013 pukul 22.11 WIB.
lifewithoutlimbs.org, 2013. LIFE WITHOUT LIMBS. Diakses dari http://www.nickvujicic.com pada Rabu, 11 September 2013 pukul 22.08 WIB.
lifewithoutlimbs.org, 2013. ATTITUDE IS ALTITUDE. Diakses dari http://www.nickvujicic.com pada Rabu, 11 September 2013 pukul 22.09 WIB.
Vujicic, Nick. 2013. ABOUT NICK: HIS STORY. Diakses dari http://www.attitudeisaltitude.com/about-nick-his-story pada Rabu, 11 September 2013 pukul 22.05 WIB.


Vujicic, Nick. 2013. "Something More" Music Video. Diakses dari http://www.youtube.com/watch?v=GrV_ZvwZRvw pada Rabu, 11 September 2013 pukul 22.02 WIB.