Hi-Tech Student Day 2012

Hi-Tech Student Day 2012
Foto bersama Kakak-Kakak Pramuka Unpad dengan Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia usai upacara peringatan HUT RI ke-68 pada Sabtu (17/8/2013) di Kampus Unpad Dipatiukur, Bandung

Jumat, 20 Maret 2015

#JepangnyaTuhDiSini, edisi 23-24 Februari 2015

Awal Perjalanan ke Jepang (1)

Berbagai persiapan menuju negeri matahari terbit terus disiapkan olehku, namun rupanya masih ada saja yang belum lengkap. Ibuku menanyaiku perihal perlengkapan apa saja yang belum ada. Setelah dicek lagi, ternyata masih kurang steker tipe A berbentuk pipih. Memang di Jepang colokan listriknya berbeda dengan yang ada di Indonesia. Steker tipe A memiliki tegangan 110 Volt, sedangkan di Indonesia bertegangan 220 Volt. Aku mencari steker tipe A di tiga toko listrik dekat rumah, namun tak ada satupun yang menjualnya. Akhirnya, ibuku berinisiatif membelikan terminal listrik untuk digunakan selama di sana dengan harap teman satu kelompok membawa 2 steker tipe A.

Berbagai persiapan selama di Jepang
Di Jepang menggunakan steker tipe A (bentuk pipih) 110 volt

Sebenarnya tak hanya steker tipe A saja yang aku cari, tetapi masih ada beberapa perlengkapan lainnya, seperti kaos kaki, sarung tangan, dan obat-obatan. Aku harus membeli kaos kaki lagi karena di sana sedang musim dingin dan sesuai buku pedoman, peserta Jenesys 2.0 Mass Media Batch 11 dihimbau untuk membawa kaos kaki selama 7 hari di samping membawa mantel atau jaket tebal. Aku juga membawa beberapa kaos atau baju yang bisa berlapis-lapis dipakai supaya tetap merasa hangat. Saat musim dingin di Jepang, suhu di setiap kota berbeda-beda kisaran 4-6 derajat celcius pada bulan Februari. Aku pun mempelajari bahasa Jepang dan berbagai kebiasaan orang Jepang melalui buku pedoman.

Sebelum take off, kami dikumpulkan terlebih dahulu oleh pendamping peserta Jenesys dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI. Pada sesi ini, kami mengisi daftar hadir dan mengecek kembali semua perlengkapan khususnya paspor dan visa sebagai senjata kami selama di Jepang. Kami juga dibagi ke dalam 4 grup, yaitu grup A-D yang ditempatkan di berbeda prefektur. Aku kebagian grup Indonesia-D Prefektur Ehime bersama 24 orang lainnya termasuk 5 mahasiswa dari satu almamater Unpad.
Pesawat Japan Air Lines (JAL)

Usai dibagi ke dalam grup, kami melakukan broading pass yang cukup ketat karena akan memasuki negara orang, khususnya Jepang yang merupakan negara maju. Air mineral yang dibawa peserta Jenesys harus disita karena mengandung cairan dan dikhawatirkan tercampur unsur kimia lainnya. Setelah itu, kami menunggu take off di ruang tunggu keberangkatan terminal 2.
Para peserta Jenesys sedang bersiap-siap take off di dalam pesawat JAL
Dalam pesawat JAL, kami bisa menonton film termasuk film Jepang dan mendengarkan musik Jepang

Aku kira perjalanan ke Jepang menggunakan maskapai penerbangan kebanggaan negeri ini, Garuda Indonesia. Ternyata, aku dan teman-teman beserta pendamping dari Kemenkominfo pergi ke sana menggunakan maskapai penerbangan Jepang, Japan Air Lines (JAL). Wah, branded sekali bisa mencicipi penerbangan dengan maskapai Jepang. Menurutku wajar saja, karena Jenesys ini kan merupakan program dari pemerintah Jepang bagi para pelajar dan mahasiswa ASEAN termasuk Indonesia. Dalam program kali ini, para delegasi dari Indonesia ditemani oleh delegasi dari Myanmar yang terdiri dari 2 grup.

Perjalanan dari Jakarta menuju Tokyo menempuh waktu sekira 7 jam. Kami berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 21.50 WIB dan tiba di Bandara Narita pukul 06.30 waktu Jepang. Saat pesawat sudah memasuki langit Jepang, sang mentari pun muncul dengan sendirinya dan benar saja begitu indahnya matahari menyinari pagi hari di Jepang yang terkenal dengan sebutan negeri matahari terbit. Kala musim dingin, matahari muncul pada pukul 6.00-6.45 waktu Jepang.
Sang mentari mulai menampakkan dirinya dari jendela pesawat
Gugusan awan pagi hari bertambah cantik dengan hadirnya sang mentari

Saat keluar dari dalam kabin pesawat menuju bagian imigrasi Bandara Narita, cuaca berubah menjadi sangat dingin sekali. Mungkin ini yang dinamakan dengan weather shock dari cuaca negara tropis ke cuaca negara 4 musim, apalagi masih musim dingin. Biasanya kalau kita masuk ke minimarket di Indonesia, suhunya dingin dan keluar menjadi panas, namun di Jepang justru kebalikannya. Benar saja, setelah keluar dari bandara barulah suhu musim dingin di Tokyo terasa menusuk tulang hingga sakitnya tuh di sini... maksudnya sampai terasa ke dada, asli deh. Maklum karena tubuhku ini kurus dan berlapis tulang belulang dengan kulit tipis, he..he..
Setibanya di Bandara Narita, Jepang pada Selasa pagi (24/2/2015)
Para peserta Jenesys 2.0 Mass Media yang baru tiba di Bandara Narita langsung ke bagian imigrasi

Kami pun dijemput dengan bus menuju hotel East 21, Tokyo sesuai dengan pembagian grup saat di Jakarta. Sepanjang perjalanan, aku takjub dengan tata ruang kota yang diberlakukan di Jepang karena tidak semrawut, tetapi benar-benar tertata dengan baik. Misal, letak pusat bisnis, tempat pemerintahan, bahkan pabrik berbeda lokasi. Perjalanan dari Narita menuju Tokyo sekira 60 menit menggunakan bus.
Hotel East 21 Tokyo, di dekatnya ada tempat parkir khusus sepeda

Setibanya di Tokyo, aku memperhatikan orang-orang Jepang gemar sekali naik sepeda. Mobil-mobil yang berlalu lalang di jalan-jalan Tokyo tampak sedikit dan bisa dihitung dengan jari setiap kali berhenti di lampu lalu lintas. Untuk jarak jauh, mereka lebih suka berpergian dengan kendaraan umum, seperti bus dan kereta bawah tanah. Sepanjang jalan itu, aku menemukan seorang ibu yang mengantarkan anaknya sekolah dengan sepeda seperti mamanya Sinchan yang ada di kartun, benar ada di dunia realita. Mereka yang mengendarai sepeda tak khawatir jika diparkir begitu saja bahkan tidak dikunci atau digembok dan ternyata aman-aman saja. Pantas saja berdasarkan survei beberapa waktu lalu, Tokyo dinobatkan sebagai kota teraman di dunia.
Suasana perempatan lalu lintas di Tokyo
Seorang ibu yang mengantarkan anaknya pergi sekolah atau sekadar jalan-jalan dengan sepeda

Begitu tiba di hotel East 21, kami langsung disambut oleh koordinator grup kami yaitu Pak Kuswan yang berasal dari Indonesia dan Mabuchi yang merupakan orang asli Jepang tapi pernah tinggal di Jogja. Aku sempat mengira kalau Pak Kuswan itu orang Jepang, karena wajahnya sudah seperti orang Jepang. Pak Kuswan memang sudah lama tinggal dan kerja di Tokyo. Beliau menjelaskan mengenai informasi seputar program Jenesys ini berlangsung. Kami juga diminta untuk menerapkan kedisiplinan selama 8 hari di Jepang dan setelah tiba di Indonesia lagi terserah mau dilanjutkan untuk disiplin atau ngaret. Bisa saja cara Pak Kuswan menghimbau kami.
Kegiatan orientasi pertama saat di Jepang
Mabuchi (sebelah kiri) dan Pak Kuswan (sebelah kanan)

Entah mengapa di hari pertama menginjakkan kaki di Jepang, justru hari itulah kami diberikan waktu untuk berjalan-jalan mengelilingi setiap sudut Kota Tokyo. Waduh, kalau begini caranya, langsung saja sikat dan hajar waktu jalan-jalan ini, he..he. Grup Indonesia-D tak mau kalah dan bersemangat untuk bisa mengunjungi ragam tempat menarik yang ada di Tokyo, seperti Asakusa, Shibuya, bahkan Tokyo Tower. Sebelumnya Pak Kuswan telah memberikan informasi mengenai ‘Tokyo Metro’, sebutan untuk kereta bawah tanah Tokyo menuju ke berbagai tempat.

Setelah makan siang, kami segera bergegas menuju stasiun kereta bawah tanah wilayah Toyocho yang dekat dengan hotel East 21. Kami pun langsung membeli tiket elektronik ‘one day ticket’ yang bisa digunakan seharian penuh. Akhirnya, kami memutuskan untuk ke Asakusa yang merupakan pasar tradisional bagi para wisatawan dan terdapat kuil untuk peribadatan orang Jepang. selain itu, terdapat becak tradisional Jepang bagi para wisatawan yang ingin berkeliling sekitaran Asakusa.
Becak tradisional Jepang untuk wisatawan



Kami berangkat dari Toyocho pukul 15.00 dan tiba di Asakusa pukul 16.00 karena kami kebanyakan bertanya, maklum pertama kali naik beginian, he..he.. belum ada soalnya di Indonesia. Sempat terpikir olehku dan bilang ke teman-teman, kalau di Indonesia khususnya Jakarta ada kereta bawah tanah, nanti yang ada pas hujan turun, airnya netes-netes ke stasiun sama keretanya, bisa-bisa kelelep karena memang kontur tanah di Jakarta mudah merembes.
Saat menunggu kereta datang
Kereta 'Tokyo Metro' tiba di Stasiun Toyocho

Saat di Asakusa, banyak sekali kios-kios suvenir, makanan, mainan, bahkan pakaian khas Jepang. Barang-barang yang dijual di sana terbilang terjangkau bagi wisatawan. Aku dan teman-teman ada yang membeli jajanan khas Jepang, lalu ada juga yang membeli suvenir sebagai buah tangan. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, tanda kami harus segera kembali ke hotel supaya tidak telat.
Gerbang Asakusa
Suasana di Asakusa





Tadinya, kami ingin ke Shibuya yakni pusat keramaian Kota Tokyo yang terkenal dengan para pejalan kakinya dan gedung-gedung pencakar langit. Sayang, karena kami sampai di Asakusa kesorean jadi kami tidak sempat ke sana. Kami harus kumpul kembali untuk jamuan makan malam pukul 18.20 dan kebiasaan orang Jepang minimal 5 menit sebelumnya sudah tiba di tempat. Maka, kami dihimbau sudah berkumpul pukul 18.15 di loby hotel. Itulah kebiasaan orang Jepang yang terkenal dengan kedisiplinannya. Pantas saja kalau Jepang sudah menjadi negara maju karena perilaku orang Jepang yang disiplin dan giat bekerja.
Keramaian di Asakusa, Tokyo

Tak sampai di situ, setelah makan malam kami langsung memutuskan untuk jalan-jalan lagi sebelum jam malam pukul 22.00. Akhirnya, kami bergegas menuju landmark Kota Tokyo yaitu ‘Tokyo Tower’. Ternyata perjalanan menuju Tokyo Tower sangat jauh karena berada di pusat kota. Kalau mau ke Shibuya lebih jauh lagi. Kami berangkat pukul 20.30 dan tiba pukul 21.00, di sinilah kami bisa melihat pemandangan Tokyo di malam hari. Dari ketinggian 120 meter bagian tengah Tokyo Tower, kami bisa melihat Rainbow Bridge yang juga sebagai simbol Kota Tokyo. Indah dan menakjubkan pemandangannya. Selain itu, aku dan teman-teman bisa melihat penayangan film 3D di sini. Rasanya tidak ingin turun, tetapi karena keterbatasan waktu juga kami harus kembali ke hotel.
Penayangan film 3D di Tokyo Tower
Tokyo Tower saat malam hari
Rainbow Bridge dari atas Tokyo Tower

*To be continue...

Kamis, 15 Januari 2015

Opini Olah Raga 2

Semangat Membara Para Atlet Difabel Indonesia

Oleh: Deden Rochman Saputro, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad


Perhelatan Asian Para Games 2014 yang digelar pada 18-24 Oktober di Incheon, Korea Selatan menjadi wadah tersendiri bagi para atlet berkebutuhan khusus untuk bisa berprestasi di pentas internasional. Setidaknya hal itu yang mampu ditunjukkan oleh para altet difabel Indonesia yang telah berjuang di pentas olah raga muliticabang se-Asia tersebut. Berbagai persiapan yang mereka lakukan sebelumnya, akhirnya sedikit demi sedikit membuahkan hasil manis dengan berbagai raihan medali emas.

       Kabar menggembirakan itu datang dari berbagai cabang yang diikuti para atlet difabel Indonesia seperti bulu tangkis, tenis meja, dan renang. Bahkan Indonesia mampu memecahkan rekor dunia dan Asia melalui atlet renang Mulyana dan Melianus Marinus Yowei. Mereka tampil dengan luar biasa dalam mencapai kemenangan. Hingga akhir penyelenggaraan APG 2014, Indonesia berada di peringkat kesembilan dengan raihan 9 medali emas,11 perak, dan 18 perunggu. Hal ini justru mampu mengalahkan raihan medali emas Asian Games 2014 beberapa pekan lalu yang berada di posisi 17 dengan 4 medali emas, 5 perak, dan 11 perunggu.

       Keberhasilan para atlet difabel mungkin tidak bisa disamakan seutuhnya dengan para atlet yang dalam kondisi normal. Semangat gigih pantang menyerah itulah yang seharusnya dapat diikuti oleh para atlet yang kondisinya memungkinkan untuk berprestasi lebih di pentas olah raga internasional. Walaupun, para atlet difabel mengalami kekurangan secara fisiknya, namun secara mental mereka boleh dikatakan kuat dan siap menghadapi berbagai tantangan untuk bisa berprestasi.

       Kabar menggembirakan datang dari cabang bulu tangkis dalam ajang Asian Para Games (APG) Incheon 2014 di mana para atlet difabel Indonesia berhasil memboyong 4 medali emas. Mereka tampil dengan luar biasa dalam mencapai kemenangan. Fredy Setiawan, tunggal putra SL4 berhasil meraih medali emas pertama bulu tangkis bagi kontingen Indonesia. Fredy mengalahkan Tarun, atlet asal India, dengan skor cukup ketat 22-20, 21-18. Selanjutnya, medali emas kedua diraih oleh Ukun Rukaendi di nomor tunggal SL3 dengan mengalahkan Manoj Sarkar (India), 21-14 dan 21-15.

       Dua emas lagi diperoleh lewat nomor ganda campuran dan ganda putra. Pasangan ganda campuran SL 3,4/SU 5 Fredy Setiawan/Leani Ratri Oktila sukses menundukkan Raj Kumar/Parul Dalsukbhai Parmar (India), 21-14, 21-15. Kemudian ganda putra SL 3-4 Harry Susanto/Ukun Rukaendi menang atas rekan senegaranya, Dwiyoko/Fredy Setiawan, 21-15 dan 21-13.

       Selain itu, dua medali emas lainnya juga berhasil direbut dari cabang tenis meja pada hari sebelumnya, Rabu (22/10) di Songdo Global University Gymnasium Incheon. Pada nomor tunggal putra kelompok TT9-10, Dian David Michael Jacobs mampu mengandaskan perlawanan pemain Sri Lanka, Dinesih D Pitiyoge Don Silva, dengan skor 3-1 (11-6, 11-5, 7-11, dan 11-9). Raihan medali emas David ini merupakan medali emas pertama sejak keikutsertaannya pada Asian Paragames. Pada ajang APG 2010, David hanya mampu memboyong medali perunggu di Guangzhou, Tiongkok.

       Sementara itu pada kelompok TT5, Agus Susanto berhasil mengalahkan pemain tuan rumah Kim Ki-Young dengan skor meyakinkan 3-0 (11-8, 13-11, 11-7). Agus susanto sendiri mengaku bahwa teknik lawan lebih unggul darinya, namun dia bisa menggunakan strategi menyerang dan pertahanan yang baik. Agus tak ingin membiarkan lawan dengan leluasa menyerang dirinya dan kalah begitu saja.

       Di samping berbagai prestasi gemilang tersebut, pada kenyataannya olah raga kita masih menyisakan berbagai persoalan klasik, seperti pendanaan dan pembinaan. David Jacobs pun berharap kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan olah raga khususnya olah raga bagi kategori difabel. “Pembinaan secara keseluruhan wajib dilakukan, mulai dari perencanaan, pembiayaan pada saat pelatnas, hingga memperhatikan kesejahteraan atlet,” ungkapnya dalam berita Harian Bola edisi 20 Oktober 2014 lalu.

       Selain dukungan moril yang diberikan kepada para atlet Indonesia, sudah sewajarnya pula pemerintah memberikan bentuk dukungan materil kepada para atlet dan tim pelatih. Jangan sampai prestasi olah raga kita selama ini mandek karena kurangnya sokongan tersebut. Sudah cukup kita hanya bisa mengintil dari belakang negara-negara Asia lainnya yang mulai berkembang prestasinya di bidang olah raga.

       Dengan semangat dan daya juang yang begitu besar, para atlet difabel Indonesia mampu menunjukkan kepada dunia bahwa dengan kekurangan yang mereka miliki justru bisa berubah menjadi suatu kelebihan yang tak terduga. Buktinya, mereka mampu berprestasi di pentas olah raga dunia dengan kepercayaan diri yang tinggi dan usaha yang besar dalam mencapai prestasi tersebut. Diharapkan melalui pemerintahan yang baru di bawah kepemimpinan Jokowi-JK mampu mendukung sepenuhnya perjuangan para atlet kita dalam mengembalikan supremasi olah raga Indonesia di kancah internasional.

       Dalam keterbatasannya, para atlet difabel Indonesia mampu menunjukkan kelebihannya dan bisa menciptakan prestasi yang membanggakan. Itulah yang dinamakan dengan semangat membara para atlet difabel Indonesia yang sungguh luar biasa daya juangnya. Kita nantikan catatan-catatan prestasi mereka di pentas olah raga internasional lainnya, guna mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia di pentas dunia.

Opini Olah Raga 1

Kembalikan Supremasi Olah Raga Indonesia

Oleh: Deden Rochman Saputro, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

Perhelatan Asian Para Games 2014 di Incheon, Korea Selatan yang digelar pada 18-24 Oktober lalu menjadi wadah tersendiri bagi para atlet berkebutuhan khusus untuk bisa berprestasi di pentas internasional. Setidaknya hal itu yang mampu ditunjukkan oleh para altet difabel Indonesia yang telah berjuang di pentas olah raga muliticabang se-Asia tersebut. Berbagai persiapan yang mereka lakukan sebelumnya, akhirnya sedikit demi sedikit membuahkan hasil manis dengan berbagai raihan medali emas.

Kabar menggembirakan itu datang dari berbagai cabang yang diikuti para atlet difabel Indonesia seperti bulu tangkis, tenis meja, dan renang. Bahkan Indonesia mampu memecahkan rekor dunia dan Asia melalui atlet renang Mulyana dan Melianus Marinus Yowei. Mereka tampil dengan luar biasa dalam mencapai kemenangan. Hingga akhir penyelenggaraan APG 2014, Indonesia berada di peringkat kesembilan dengan raihan 9 medali emas,11 perak, dan 18 perunggu. Hal ini justru mampu mengalahkan raihan medali emas Asian Games 2014 beberapa pekan lalu yang berada di posisi 17 dengan 4 medali emas, 5 perak, dan 11 perunggu .

Keberhasilan para atlet difabel tersebut mungkin tidak bisa disamakan seutuhnya dengan para atlet yang dalam kondisi normal. Tetapi, semangat gigih pantang menyerah itulah yang seharusnya dapat diikuti oleh para atlet dengan kondisi normal untuk lebih berprestasi di pentas olah raga internasional. Walaupun para atlet difabel mengalami kekurangan secara fisiknya, namun secara mental mereka boleh dikatakan kuat dan siap menghadapi berbagai tantangan untuk bisa berprestasi.

Dengan semangat dan daya juang yang begitu besar, para atlet difabel Indonesia mampu menunjukkan kepada dunia bahwa dengan kekurangan yang mereka miliki justru bisa berubah menjadi suatu kelebihan yang tak terduga. Buktinya, mereka mampu berprestasi di pentas olah raga dunia dengan kepercayaan diri yang tinggi dan usaha yang besar dalam mencapai prestasi yang membanggakan, salah satunya melalui ajang APG 2014.

Di samping berbagai prestasi cemerlang tersebut, pada kenyataannya olah raga kita masih menyisakan berbagai persoalan klasik, seperti pendanaan dan pembinaan. David Jacobs pun berharap kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan olah raga khususnya olah raga bagi kategori difabel. “Pembinaan secara keseluruhan wajib dilakukan, mulai dari perencanaan, pembiayaan pada saat pelatnas, hingga memperhatikan kesejahteraan atlet,” ungkap atlet tenis meja tersebut dalam Harian Bola edisi 20 Oktober 2014 lalu.

Dalam keterbatasannya, para atlet difabel Indonesia mampu menunjukkan kelebihannya dan bisa menciptakan prestasi yang membanggakan. Itulah yang dinamakan dengan semangat membara para atlet difabel Indonesia yang sungguh luar biasa daya juangnya. Maka kita pun bisa menantikan catatan-catatan prestasi mereka di pentas olah raga internasional lainnya, guna mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia di pentas dunia. Tentu hal tersebut bisa tercapai dengan syarat harus benar-benar disokong oleh pemerintah.

Selain dukungan moril yang diberikan kepada para atlet Indonesia, sudah sewajarnya pula pemerintah memberikan bentuk dukungan materil berupa pendanaan dan sarana yang memadai kepada para atlet, tim pelatih, dan pengurus cabang olah raga. Jangan sampai prestasi olah raga kita selama ini mandek karena kurangnya sokongan tersebut. Sudah cukup kita hanya bisa mengintil dari belakang negara-negara Asia lainnya yang mulai berkembang prestasinya di bidang olah raga, seperti Vietnam, Mongolia, bahkan Korea Utara.

Prestasi terbaik olah raga Indonesia dalam perhelatan multicabang terjadi kala Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962 dengan menduduki peringkat kedua setelah Jepang. Saat itu, kekuatan olah raga Indonesia hampir merata di semua cabang olah raga. Tidak hanya bulu tangkis saja yang sudah terkenal dengan berbagai prestasi gemilangnya, bahkan tim nasional sepak bola kita kala itu mampu menjadi penghuni empat besar kekuatan sepak bola Asia dan hampir masuk Piala Dunia.

Di manakah “Macan Asia” olah raga tersebut yang sempat bersemayam di raga dan jiwa rakyat Indonesia? Bukankah dahulu pemerintah mencanangkan program, “memasyaratkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat”? Rupanya hal itu masih jauh api dari panggang, karena pemerintah masih berkelit dari kewajibannya dalam menyukseskan programnya sendiri dan belum menjadikan para atlet yang sudah ada layaknya para pahlawan olah raga di pentas dunia.

Program pelatihan khusus atlet dalam meraih medali emas di pentas multicabang haruslah dioptimalkan dengan baik dan berkesinambungan melalui Program Indonesia Emas (Prima). Jangan sampai putus dari era satu pemerintahan ke pemerintahan selanjutnya. Mulailah membuat kebijakan program olah raga  berjenjang dan berkelanjutan yang efektif bagi para atlet kita.

Mari kita berkaca dengan negara-negara yang sudah maju sistem pola pembinaan olah raganya, seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Pemerintah di ketiga negara tersebut tidak tanggung-tanggung dalam mendukung bidang olah raga negaranya karena melalui olah raga bisa menjadi salah satu tolak ukur kehormatan suatu bangsa. Dengan begitu, mereka bisa disegani dan lebih dikenal oleh negara-negara lainnya karena mampu menunjukkan prestasi yang bagus dalam bidang olah raga.

Diharapkan pemerintahan Jokowi-JK bisa menghadirkan berbagai solusi perubahan yang nyata dalam memajukan pembinaan olah raga  Indonesia dan tak lupa memperhatikan kesejahteraan para atlet. Di masa bakti 2014-2019, Jokowi-JK juga harus bisa memulai berinvestasi di ranah olah raga. “Pemerintah yang baru harus bisa berinvestasi di olah raga karena bidang ini membuat Indonesia semakin dikenal. Paling tidak, contohlah Tiongkok yang sangat maju dalam membina olah raga,” kata Risa Suseanty yang merupakan atlet sepeda downhill dalam Harian Bola edisi 21 Oktober 2014. Dengan begitu Indonesia akan siap menghadapi perhelatan olah raga multicabang tingkat Asia manakala Indonesia bertindak sebagai tuan rumah Asian Games 2018.

Dalam hal ini, tentu saja pemerintah harus bisa mengerahkan segenap potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada guna dilatih dan dididik menjadi atlet tangguh dan berprestasi sejak usia dini. Apalagi penduduk Indonesia merupakan terbesar keempat di dunia dengan total penduduk sekitar 250 juta jiwa. Apa tidak malu dengan Singapura yang hanya berpenduduk kurang dari 10 juta jiwa mampu berprestasi lebih di kancah olah raga dunia? Kita juga berharap melalui pemerintahan yang baru ini, mampu memberikan dukungan penuh bagi perjuangan para atlet kita dalam mengembalikan supremasi olah raga Indonesia di kancah internasional. 

Sabtu, 11 Oktober 2014

Resensi Buku


Di Balik Kisah Semangat Membatu Timnas U-19

Oleh: Deden Rochman Saputro, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad


Data Buku
Judul buku : Semangat Membatu: Official Story Timnas U-19
Penulis : F.X. Rudy Gunawan & Guntur Cahyo Utomo
Penyunting : Nurjannah Intan & Muhammad Ghofur
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Tahun terbit : Februari, 2014
Tebal buku : 226 halaman
Harga : Rp. 49.000,00


Ada satu ciri khas yang sering dijumpai dalam buku Semangat Membatu: Official Story Timnas U-19, yakni berupa kutipan dari suatu potongan kalimat di tiap bagian dalam buku ini. Kutipan tersebut mempunyai makna mendalam, tegas, dan menjadi inti dari pembahasan perbagiannya. Ciri khas lainnya yaitu terdapat beberapa foto yang menggambarkan isi tulisan dan suasana nyata dari pemaparan buku tersebut.

       Ditulis dengan gaya berkisah yang khas layaknya feature berupa ragam kisah perjuangan para pemain dan tim pelatih Timnas U-19 dipadukan dengan kisah-kisah yang lucu dan jenaka, membuat pembaca merasa seolah-olah berada dalam kisah tersebut. Pembaca bisa langsung membayangkan bagaimana kisah-kisah itu menghiasi buku ini.

       Penulisan buku yang berkisah ini ditulis dengan ketulusan hati dari salah satu penulis, Guntur Cahyo Utomo yang secara langsung mengalami kisah nyata tersebut sehingga dapat menghadirkan senyum di ruang pembaca. Ditemani oleh F.X. Rudy Gunawan, penulisan buku ini menjadi lebih hidup karena dengan kemampuannya sebagai penulis buku sudah terbiasa menuliskan beberapa buku fiksi maupun nonfiksi termasuk buku inspiratif yang mampu memotivasi para pembacanya.

       “Tidak ada prestasi yang bisa dicapai tanpa melalui proses perjuangan” merupakan salah satu kutipan dalam buku ini. Kutipan itu menggambarkan perjalanan perjuangan Timnas U-19 dalam meraih ragam prestasi yang telah diraih. Timnas U-19 menjadi sebuah solusi untuk menunjukkan satu hal penting dalam pelajaran cinta Tanah Air, bangsa, dan negara atas berbagai prestasi gemilang mereka. Hal itu menjadi lembaran baru dalam sejarah bangsa Indonesia di kancah sepak bola dunia.

       Sepak bola sebagai tontonan yang memiliki daya pukau dan pesona yang sangat besar dan mampu menghipnotis jutaan orang dalam situasi dan kondisi apapun, tak peduli hujan atau panas. Sepak bola juga mampu menyatukan ragam kekuatan dan menembus berbagai kabut penghalang. Para pemain ibarat magnet yang mampu menarik semua perhatian para penonton.

       Anak-anak Timnas U-19 ibarat mutiara yang ditemukan di dasar lautan, karena coach Indra Sjahfri menemukan bakat-bakat mereka dengan cara blusukan ke berbagai daerah. Tanpa itu, bakat anak-anak tersebut bisa jadi tenggelam tak terlihat. Maka, Indra Sjahfi dan segenap tim pelatih mencari bibit-bibit unggul dari seluruh Indonesia bahkan dari pelosok nusantara untuk menciptkaan sebuah Timnas yang tangguh dan memiliki semangat optimisme yang tinggi.

       Olahraga secara umum, dan sepak bola khususnya, langsung mengajarkan kemampuan mengatasi masalah (problem solving) seperti menghadapi pressure (tekanan), mengatasi kekuatan lawan, kerja sama tim, sportivitas, bahkan integritas dalam suatu pendidikan mental yang bisa membentuk karakter kuat. Dengan adanya kompetisi akan melahirkan sosok yang siap menghadapi segala hasil yang didapatkannya, baik menang maupun kalah. Namun, yang terpenting dari itu semua adalah sikap pantang menyerah dan memiliki rasa optimis sekalipun diuji secara mental dan fisik.

       Begitu pula dengan kata coach Guntur yang merupakan pelatih mental Timnas U-19 selalu memberikan berbagai motivasi melalui berbagai metode seperti joget dangdut setelah latihan membuat para pemain Timnas U-19 rileks kembali. Bahkan tak segan, coach Guntur memberikan pendapatnya yang menjadi salah satu kutipan di buku ini, yaitu “Tiap orang bisa kalah, tetapi saya benci kekalahan. Saya tidak ingin kalah”. Hal itu menjelaskan sungguh pilihan kata yang cerdas dari seorang pelatih. Akan sangat berbeda dengan kata-kata seperti “Kalian harus menang. Tidak boleh kalah!”. Walau bermakna sama, pilihan kata atau diksi dalam hal ini sangat penting khususnya dalam proses pelatihan sepak bola. Kata-kata yang dipilih para pelatih harus tepat, positif, dan memiliki kekuatan sugesti dan berpengaruh pada psikologis para pemain.

       Sehari-hari di tengah hujan deras yang hampir tiap hari mengguyur Kota Batu, para pemain Timnas U-19 juga bertanggung jawab mengurus berbagai tugas dan kewajiban mereka, mulai dari mencuci sepatu sampai mengurus persiapan latihan. Mereka juga selalu tepat waktu sesuai jadwal yang sudah ditentukan para pelatih. Para pelatih memberi teladan dan contoh konkret, bukan sekadar pidato berapi-api atau omong kosong tanpa juntrungan.

       Semua hal sederhana itu adalah batu fondasi untuk menjadi pemenang, menjadi sang juara. Semua hal sederhana itu adalah ramuan untuk menciptakan batu tekad yang kuat dan tahan badai. Batu tekad yang mampu memberantas semua halangan sebesar dan sesulit apa pun dalam perjalanan menuju Piala Dunia U-20 2015. Namun, Timnas U-19 dan Piala Dunia U-20 bukanlah tujuan akhir. Para pemain dan tim pelatih Timnas U-19 sudah menjadi keluarga “Garuda Muda” yang saling melengkapi.

       Buku ini mengajarkan kepada kita akan pentingnya sebuah perjuangan yang diawali dengan dasar tekad dan semangat kuat membentuk suatu semangat bernama semangat membatu, diambil dari sebuah kota di Jawa Timur sebagai tempat latihan Timnas U-19. Semangat membatu merupakan semangat yang benar-benar tertancap dalam dada, raga, dan jiwa para punggawa dan tim pelatih Timnas U-19 dalam mengibarkan Sang Saka Merah Putih di pentas dunia. Kobaran semangat itu dilandasi pula dengan semangat patriotisme dan nasionalisme sebagai bangsa Indonesia yang kuat tekadnya dalam menjaga harkat dan martabat bangsanya khususnya melalui sepak bola. 


Resensi buku ini dimuat di harian umum Pikiran Rakyat, edisi Kami, 23 Oktober 2014 pada rubrik Kampus



Sabtu, 26 April 2014

"Every Trail Start Here"

Menembus Puncak Cikuray

oleh: Deden Rochman Saputro


Tahukah kamu di mana letak tanah tertinggi di Garut, Jawa Barat? Menelusuri lebih dalam kawasan penghasil dodol ini, terdapat Gunung Cikuray yang merupakan tanah tertinggi "Swiss Van Java" julukan untuk Garut. Ketinggian Gunung Cikuray mencapai 2.814 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Gunung Cikuray di tanah "Swiss Van Java", Garut, Jawa Barat (Foto: Google.com)
Di penghujung tahun 2011, tepatnya 2-4 Desember menjadi edisi pertama pendakian pertamaku. Ya, pendakian bersama kawan-kawan Pramuka Unpad ke Gunung Cikuray yang diawali dengan sambutan guyuran hujan yang menghiasi sepanjang perjalanan kami dari Jatinangor sampai di Garut. Waktu itu, kami berangkat sore sekitar pukul 16.00 WIB dan hingga petang hari, hujan masih enggan berhenti. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat kami untuk bisa menggapai Puncak Cikuray.

Saat malam tiba, kami pun istirahat sejenak untuk makan, sholat, mengecek perlengkapan, dan briefing bersama. Briefing dilakukan untuk mengetahui medan pendakian yang kami akan tempuh. Pengecekan perlengkapan juga dilakukan untuk memastikan perjalan kami tercukupi dengan perbekalan yang sudah disiapkan sebelumnya. Kami juga melakukan peregangan otot-otot badan setelah beberapa langkah menelusuri perkebunan teh kaki Gunung Cikuray.

Peregangan otot-otot badan (Dok. Pramuka Unpad)
Berhubung hujan baru saja reda, maka kami harus berhati-hati melintasi tanah yang gembur dan jalan batu yang licin. Kami melintasi perkebunan teh yang terletak di kaki Gunung Cikuray ditemani dengan suara jangkrik tanpa adanya penerangan. Walaupun begitu, kami tetap asyik menikmati perjalanan ini karena sesekali diselipi canda-tawa dari kakak-kakak Pramuka Unpad.

Saat memasang tenda di kaki Gunung Cikuray ditemani sinar sang rembulan, 2 Desember 2011 pukul 23.47 WIB
(Dok. Pramuka Unpad)
Tatkala malam sudah semakin larut, kami memutuskan untuk beristirahat dengan memasang tenda di sekitar kebun teh. Sinar sang rembulan yang begitu indah menemani kami di kaki Gunung Cikuray. Dari sana, terlihat kerlap-kerlip Garut dan Tasikmalaya. Wah, sungguh indah ciptaan Sang Maha Pencipta.

Esok harinya, kami melanjutkan perjalanan kami dan tidak lupa untuk leave no trace yakni tidak meninggalkan sesuatu apapun selain jejak kami. Sebelum perjalanan dilanjutkan, kami menggunakan peta navigasi sebagai panduan pendakian ke Puncak Cikuray. Kami juga menimbang barang bawaan kami yang ada dalam tas keril. Kami pun membagi-bagi berat beban tas keril sama rata supaya "berat sama dijinjing, ringan sama dipikul". Dengan begitu, merupakan awal dari pembentukan kekompakan dan kekeluargaan di antara kami.

Pesona alam kaki Gunung Cikuray kala pagi hari (Dok. Pramuka Unpad)
Jalur menuju Puncak Cikuray sebenarnya sudah ada, namun sebagai calon anggota (caang) Pramuka Unpad, saya dan 13 orang lainnya diminta mencari jalur lain dengan kemampuan peta navigasi yang sudah diajarkan saat materi kelas sebelumnya. Saat pendakian inilah, kami langsung mempraktekan berbagai materi perjalanan dan pendakian ke gunung. Walau kami disuruh untuk bisa mandiri, tetapi kakak-kakak panitia lainnya tetap mendampingi kami. Ada yang bertindak sebagai advance (kelompok pendakian paling depan) maupun sweeper (kelompok pendakian paling belakang). 

                              

Di tengah perjalanan, sesekali kami berhenti untuk istirahat khususnya menunggu kawan kami yang memang belum terbiasa mendaki gunung. Kami saling memberikan dukungan dan motivasi untuk bisa mencapai Puncak Cikuray bersama-sama. Langkah demi langkah kami lalui dan tibalah kami di puncak bayangan Gunung Cikuray. Kabut pun menyelimuti puncak bayangan kala sore itu saat kami memasang tenda untuk bermalam.

Kabut menyelimuti puncak bayangan Gunung Cikuray (Dok. Pramuka Unpad)
Bermalam di puncak bayangan Gunung Cikuray memberikan kesan yang mendalam manakala kami saling mencoba menghangatkan diri satu sama lain, yakni dengan masak dan makan malam bersama. Kemudian, dilanjut dengan perkenalan sambil meminum segelas teh hangat disertai canda-tawa. Suasana itulah yang diidam-idamkan oleh setiap pendaki gunung bisa berkumpul dan bercengkrama bersama sepanjang perjalanan supaya berkesan dan tak terasa medan yang harus dilalui.

                              

Di pertengahan malam, kami pun harus melanjutkan perjalanan supaya bisa mengejar waktu untuk bisa melihat matahari terbit dari Puncak Cikuray. Dengan susah payah saya dan kawan-kawan caang membereskan perlengkapan mendaki gunung di tengah tidur kami. Kami harus sigap mengikuti segala instruksi kakak-kakak panitia.

Setapak demi setapak perjalanan kami lalui, sampai setitik tanah datar terlihat dari kejauhan. Saya pun semakin bersemangat menggapai puncak tertinggi di Garut, Jawa Barat bersama kawan-kawan Pramuka Unpad. Akhirnya, kami pun tiba di puncak Gunung Cikuray. Horeee, betapa senangnya perasaan kami saat itu. Namun, saya dan kawan-kawan caang harus dibariskan terlebih dahulu sebelum benar-benar bisa mencicipi indahnya semesta alam dari Puncak Cikuray.

Kumandang azan shubuh terdengar samar-samar, tanda waktu sholat shubuh tiba. Kami masih dibariskan untuk dimintai kesanggupan untuk menjadi anggota Pramuka Unpad seutuhnya. Kami pun sholat shubuh bersama di atas Gunung Cikuray, subhanallah ku panjatkan doa syukur kami bisa melaksanakan ibadah kepada Sang Maha Pencipta di salah satu ciptaan-Nya. Upacara pelantikan dilanjutkan dan akhirnya saya dan kawan-kawan caang secara sah dilantik sebagai anggota Pramuka Unpad.

Gugusan Awan dari Puncak Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat (Foto: Google.com)
Sang mentari bersinar dengan indahnya dari ufuk timur Gunung Cikuray, menandakan pagi hari siap menyambut kami di puncak tertinggi "Swiss Van Java". Gugusan awan bak samudera langit di angkasa membentang luas dari pengamatan kami ketika berada di Puncak Cikuray. Kami pun tak segan untuk segera foto bersama untuk dijadikan kenangan sepanjang hayat kami. Seperti prinsip pendaki yang tidak meninggalkan jejak apapun, selain foto. Maka prinsip leave no trace juga telah kami terapkan sebagai bentuk tanggung jawab seorang pendaki.

Saya dan kawan-kawan angkatan Puncak Cikuray 48 Pramuka Unpad (Dok. Pramuka Unpad)

Sungguh pengalaman yang luar biasa manakala bisa menembus Puncak Cikuray yang begitu dahsyat keindahannya. Pengalaman yang telah menguras fisik, mental, dan emosi kami namun berbuah manis usai melewati tantangan bersama. Semoga perjalanan ini menjadi titik awal kami membangun kekeluargaan dan menyikapi setiap tantangan dengan arif dan bijak.